Rahasia Dahsyatnya Tahajud
Sebuah rahasia yang maha dahsyat bila anda rutin melaksanakan sholat sunah Tahajud. Sholat yang dilaksanakan sepertiga malam dengan penuh keheningan, karena di saat itu banyak orang yang tertidur lelap.
Pada saat itulah sebaiknya anda bangun dari tidur. Mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat sunah Tahajud. Boleh anda laksanakan 2 rakaat ditutup dengan witir 1 rakaat. Boleh juga 8 rakaat dan ditutup dengan witir 3 rakaat. Bila anda sanggup, boleh juga sampai 23 rakaat.
Namun, yang paling penting adalah konsistensi dalam pelaksanaannya. Lebih baik melaksanakan sholat tahajud dengan rakaat yang sedikit tapi rutin tiap malam, daripada banyak rakaatnya tapi tidak rutin. Anda perlu konsisten dan memiliki komitmen yang tinggi dalam diri.
Hal terpenting dari sholat tahajud adalah anda merenungi hidup ini, melakukan instropeksi di hari kemarin dan memohon ampunan kepada Allah dengan seraya beristighfar dengan penuh ke-khusyuk-an. Memohon diberikan kemudahan dalam melaksanakan aktivitas esok hari, dan yang lebih penting berdoa kepada Allah agar di lapangkan rezeki.
Saya menjadi teringat ketika hendak mau menikah di Bandung pada tahun 1998. Pada malam sebelum nikah, saya sempat bingung karena uang untuk transport penghulu dan juga tempat penginapan belum ada di kantong. Saya berdiskusi dengan almarhum ayah untuk mencarikan solusinya. Lalu saya katakan kesulitan saya itu kepada beliau. Ketika kesulitan itu saya sampaikan, ayah saya cuma tersenyum dan menyuruh saya untuk melaksanakan sholat tahajud.
Malamnya, saya sholat tahajud dengan penuh kekhusyukan agar besok dimudahkan dari segala urusan. Saya berserah diri kepada Allah seraya berdoa agar diberikan rezeki karena akan menikah besok lusa. Saya pun berdoa sambil menangis sesunggukan memohon ampun kepada-Nya. Segala ikhtiar sudah ditunaikan, sekarang saatnya saya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Semoga Allah mengabulkan segala permintaan saya yang akan menikah esok lusa.
Besok paginya, setelah sholat subuh berjamaah, ada ketukan pagar dari luar rumah. Begitu saya tengok keluar, ada pak Yono, salah satu pengurus masjid Al Iman datang ke rumah kami.
Setelah pintu pagar dibuka, lalu saya persilahkan beliau masuk ke ruang tamu. Setelah beliau ada di ruang tamu, maka mengobrollah kami sebentar, lalu tiba-tiba saja diberinya saya amplop yang berisi uang. Jumlahnya pas banget dengan yang saya butuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, saya mengucap syukur kepada Allah. Ternyata di pagi hari itu, Allah memberikan rezekinya lewat pak Yono dan kawan-kawan pengurus masjid yang tidak bisa ikut hadir dalam pernikahan saya di kota Bandung.
Rahasia sholat tahajud mungkin sudah pernah anda dapatkan. Dia datang berbeda-beda caranya. Ada yang cepat, dan ada yang lambat. Tergantung dari ridho Allah, dan cara kita berdoa. Terkadang kita sering terlupa bahwa doa adalah permohonan dan permintaan hambaNya yang memasrahkan dirinya agar diampuni dosanya, diberikan kemudahan hidup di dunia dan akhirat kelak. Merendahkan diri dihadapan sang penguasa langit dan bumi.
Semoga Allah mengabulkan doa-doa hambaNya yang berserah diri pada saat-saat keheningan sepertiga malam dengan melaksanakan sholat sunah tahajud. Oleh karenanya, jangan lupa pula untuk selalu sadar diri bahwa akan ada hidup sesudah mati. Di dunia ini kita hanyalah seorang pengembara yang singgah sebentar, lalu pergi kembali.
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Tuesday, March 30, 2010
Thursday, March 25, 2010
Jeritan Anak Muda
Jeritan Anak Muda
Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai "bujang lapuk" atau"perawan tua" , "tidak laku".Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Siang datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu "Kapan aku menikah??"
Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai "bujang lapuk" atau"perawan tua" , "tidak laku".Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.
Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini. Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina, mendekati saja diharamkan,
"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.". (QS. Al-Israa’:32 )
Al-Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, "Di dalam larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-, karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram menurut konteks hadits".[Lihat Fathul Qodir (3/319)]
Pembaca yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang mulia,
"Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)". (QS.Thohaa :1-3)
Allah I berfirman
"Allah tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur."(QS. : Al-Maidah: 6)
Namun sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu jalan zina !!
Di sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya; orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah seorang pria yang diridhoi agamanyadan akhlaknya serta memiliki kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,
إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
"Jika datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi "[HR.At-Tirmidziy dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1022)]
Jadi, yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan, dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hanya karena perasaan "malu" dan "gengsi" hingga rela mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini. Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya". [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa’iy (2246)]
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan sabdanya,
مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا
"Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2231)]
Oleh karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata,"Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita." Beliau bersabda, "Engkau menikahinya dengan mahar berapa?" orang ini berkata:"empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)". Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ
"Dengan empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan (penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)". [HR, Muslim(1424)].
Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, "Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami".[Lihat Syarh Shohih Muslim (6/214)]
Perkara meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
أَلَا لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ أُوْقِيَةٌ
"Ingatlah, jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan 40 dirham)" .[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887), Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3204)]
Pembaca yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah. Yang jelas ia adalah seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,
ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ
"Ada tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri". [HR. At-Tirmidziy (1655), An-Nasa’iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]
Orang tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
"Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan". [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa’iy(5034)]
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam sabda Beliau,
يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا
"permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari". [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]
Syaikh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, "Kalau sekiranya manusia mencukupkan dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki maupun wanitanya".[Lihat Az-Zawaaj]
Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai "bujang lapuk" atau"perawan tua" , "tidak laku".Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Siang datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu "Kapan aku menikah??"
Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai "bujang lapuk" atau"perawan tua" , "tidak laku".Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.
Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini. Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina, mendekati saja diharamkan,
"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.". (QS. Al-Israa’:32 )
Al-Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, "Di dalam larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-, karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram menurut konteks hadits".[Lihat Fathul Qodir (3/319)]
Pembaca yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang mulia,
"Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)". (QS.Thohaa :1-3)
Allah I berfirman
"Allah tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur."(QS. : Al-Maidah: 6)
Namun sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu jalan zina !!
Di sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya; orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah seorang pria yang diridhoi agamanyadan akhlaknya serta memiliki kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,
إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ
"Jika datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi "[HR.At-Tirmidziy dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1022)]
Jadi, yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan, dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hanya karena perasaan "malu" dan "gengsi" hingga rela mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini. Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya". [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa’iy (2246)]
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan sabdanya,
مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا
"Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2231)]
Oleh karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata,"Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita." Beliau bersabda, "Engkau menikahinya dengan mahar berapa?" orang ini berkata:"empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)". Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ
"Dengan empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan (penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)". [HR, Muslim(1424)].
Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, "Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami".[Lihat Syarh Shohih Muslim (6/214)]
Perkara meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
أَلَا لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ أُوْقِيَةٌ
"Ingatlah, jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan 40 dirham)" .[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887), Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3204)]
Pembaca yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah. Yang jelas ia adalah seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.
Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,
ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ
"Ada tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri". [HR. At-Tirmidziy (1655), An-Nasa’iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]
Orang tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
"Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan". [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa’iy(5034)]
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam sabda Beliau,
يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا
"permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari". [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]
Syaikh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, "Kalau sekiranya manusia mencukupkan dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki maupun wanitanya".[Lihat Az-Zawaaj]
Labels:
Motivasi
Adab Menuntut Ilmu
Adab Menuntut Ilmu
________________________________________
Salah seorang murid Imam Malik رحمه الله تعلى yakni Ibnu Wahhab رحمه الله berkata(5) : “Apa-apa yang kami nukilkan (kami dapatkan) tentang adab-adab dari imam Malik رحمه الله تعلى tersebut, lebih banyak daripada ilmu yang kami pelajari darinya.”
Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibnu Wahhab رحمه الله تعلى selaku seorang murid, betul-betul bergaul, belajar dan bermajelis dengan gurunya.
Hajat para penuntut ilmu terhadap ‘adab menuntut ilmu’ sangat penting sekali sebelum dia mulai melangkah untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu sangat masyur dan sangat banyak wasiat-wasiat dari para ‘ulama tentang pentingnya mempelajari adab ini.
Muqoddimah
Di dalam Muqoddimah kitab ini, Syaikh Hamad bin Ibrahim al-Utsman dengan panjang lebar menjelaskan tentang faedah-faedah dan keutamaan dalam menuntut `llmu serta perjalanan beliau dalam menyusun kitab ini, dari mulai cetakan pertama (1415 H) yang baru terkumpul 48 adab, cetakan ke dua (1416 H) dengan 60 adab, sampai pada cetakan ke empat ini dengan 109 adab. Beliau juga mengatakan bahwa kitab-kitab yang membahas tentang Adab Menuntut Ilmu sebelum ini juga sudah ada, seperti kitab Jami’u Bayanil Ilmiy wa Fadlihi (karya imam Abdil Bar رحمه الله تعلى pada abad ke 4 dan ke 5 Hijriah)(1) walaupun masih terdapat keterbatasan. Disamping itu, beliau juga menyinggung sedikit tentang pentingnya penyandaran atau penisbahan yang ilmiyah dalam penyusunan suatu kitab (2)
Namun karena keterbatasan ruang, tidak cukup seluruh isi muqoddimah beliau tersebut kita tampilkan pada tulisan ini, namun ada beberapa point yang penting untuk kita ketahui dan pahami. Beliau berkata: “Saya sebenarnya telah membukukan tentang faedah-faedah yang berhubungan dengan adab-adab dalam menuntut ilmu. Saya juga tambahkan apa-apa yang membuatnya bisa jadi lebih sempurna dan lebih tepat serta bermanfaat . Dan Allah Subhanahuwata’ala telah memudahkan saya untuk mengeluarkan kumpulan tersebut pada tahun 1415 H yaitu pada cetakan pertama. Saya berharap kepada Allah azzawajalla semoga pekerjaan tersebut menjadi amalan shaleh yang akan mengalir kepada saya sebagai balasan dari setiap orang yang membacanya atau yang mengambil manfaat darinya”
Dan pada cetakan yang keempat ini, disamping beliau menambah permasalahan baru dalam adab-adab menuntut ilmu, beliau juga menambahkan topik-topik dan bab-babnya, seperti akhwal para ‘ulama dalam masalah adab yaitu bagaimana etika duduk di dalam bermajelis, cara kita hadir di majelis `ilmu, penampilan dalam belajar, serta semangat kita dalam belajar tersebut. Disini dijelaskan juga oleh beliau mengenai adab baru yang tidak berhubungan dengan adab yang pertama tadi, sehingga jumlahnya menjadi 109 bentuk adab didalam menuntut ilmu tersebut.
Tidak diragukan lagi bahwasanya dalil-dalil dalam menuntut ilmu dan keutamaannya sangat banyak, baik dari al-Qur’an maupun dari as-Sunnah. Dan memaparkan dalil-dalil tersebut sangat penting sekali untuk menambah atau memperkuat tekad kita didalam menuntut ilmu tersebut. Dalam menuntut ilmu, ada adab-adab yang perlu dipelajari. Berpegang teguh dengan adab-adab tersebut akan membentuk dan mengokohkan etika seorang penuntut ilmu, baik antara dia dengan syaikhnya (gurunya) maupun antara dia dengan teman-temannya. Ini berguna untuk mempermudahnya dalam menuntut ilmu tersebut serta akan membimbingnya untuk melihat mana ilmu yang lebih penting dari yang penting. Bahkan manfaat dari adab-adab itu tadi akan menunjukkan padanya jalan dan metode ‘ulama-‘ulama yang betul-betul kokoh (‘ulama kibar) dalam menuntut ilmu tersebut. Ini artinya dapat terlihat dari sana, bagaimana metode dan cara para ‘ulama Salaf (ulama terdahulu) yang telah mendahuluinya dalam menuntut ilmu tersebut.
Dalam menuntut ilmu, seseorang bisa melakukannya dengan cara membaca kitab para ‘ulama dan yang terpenting adalah dengan cara mujalasah, yaitu duduk langsung dengan para ‘ulama tersebut. Hal ini tentu sangat membantu sekali dalam memahami pelajaran yang disampaikan dimana langsung bisa disaksikan bagaimana cara orang ‘alim atau ulama itu dalam mengajar, ketika men-syarah-kannya, ketika menjawab suatu pertanyaan(3) dan sebagainya.
Murid Imam Ahmad رحمه الله تعلى berkata: “Saya berteman dan bersahabat dengan Abu Abdillah (Imam Ahmad) dan saya pelajari darinya ilmu dan adab (4)
Salah seorang murid Imam Malik رحمه الله تعلى yakni Ibnu Wahhab رحمه الله berkata(5) : “Apa-apa yang kami nukilkan (kami dapatkan) tentang adab-adab dari imam Malik رحمه الله تعلى tersebut, lebih banyak daripada ilmu yang kami pelajari darinya.”
Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibnu Wahhab رحمه الله تعلى selaku seorang murid, betul-betul bergaul, belajar dan bermajelis dengan gurunya.
Hajat para penuntut ilmu terhadap ‘adab menuntut ilmu’ sangat penting sekali sebelum dia mulai melangkah untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu sangat masyur dan sangat banyak wasiat-wasiat dari para ‘ulama tentang pentingnya mempelajari adab ini.
Imam Malik رحمه الله تعلى pernah berkata kepada seorang pemuda dari kalangan masyarakat Quraisy (keturunan Qurasy); “Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab tersebut sebelum kamu memulai belajar ilmu”(6) Adab menuntut ilmu merupakan hajat yang bersangatan (penting sekali).
Berkata Yusuf bin al Husein(7) : “Dengan adab itu, ilmu tersebut dipahami.”
Berkata Abu Abdillah al-Balhi : “Adab ilmu tersebut lebih banyak daripada ilmu itu sendiri ”(8).
Juga berkata Imam Laits ibn sa’ad : “Ketika saya memperhatikan para penuntut ilmu hadits, lalu saya melihat pada mereka ada suatu kecacatan (suatu hal yang perlu dikritik dan dinasehati) lalu beliau berkata: “apa ini…? Kalian kepada adab sedikit dan kalian lebih berhajat kepada banyak ilmu”(9).
Ini menunjukkan kepada kita bahwa sangat pentingnya adab tersebut didalam menuntut ilmu.
Sebagaimana juga yang disampaikan oleh Imam Abu Bakr al-Ajurri (رحمه الله تعلى 10, beliau berkata: “Seorang ‘alim harus memiliki sifat-sifat dan keadaan-keadaan yang berbagai macam serta kedudukan-kedudukan yang wajib dia gunakan. Hal demikian harus diamalkannya disetiap saat. Maka baginya harus mengetahui sifat bagaimana cara dia dalam menuntut ilmu tersebut. Dan ketika ilmu sudah banyak disisinya maka hendaklah dia lazimkan dirinya kepada yang diwajibkan tersebut. Dia harus menguasai dan mengetahui sifat bagaimana bermajelis dengan para ‘ulama, sifat ketika dia belajar dari para ‘ulama tadi. Selain itu dia juga harus mengerti tentang sifat bagaimana cara mengajar, termasuk dalam munazaroh didalam masalah ilmu.
Dalam berfatwa, seorang `alim tersebut juga harus memiliki sifat dan adab, termasuk bagaimana bermajelis dengan para pemimpin, yang kalau seandainya dia diuji dengan duduk bersama pemimpin, dia tahu siapa yang berhak bermajelis dengannya dan siapa yang tidak berhak. Dan yang terpenting adalah dia harus memiliki sifat bagaimana beribadah kepada Allah ‘azzawajalla (antara dia dengan Allah ‘azzawajalla ). Sesungguhnya seorang `alim itu harus telah mempersiapkan setiap hak yang melazimkannya untuk mendirikan dan menunaikan hak tersebut. Dia juga harus mempersiapkan diri dari kejadian-kejadian yang baru, terutama terhadap kejelekan-kejelekan yang berhubungan dengan masalah agamanya. Dia harus berilmu dan mengetahui tentang hal-hal yang bisa mendatangkan ketaatan kepadaNya. Juga dia harus berilmu dengan apa-apa yang bisa menolak bala’ tersebut. Sesungguhnya seorang `alim itu harus ber-i’tiqod, menganut dan beramal dangan akhlak-akhlak yang baik serta menjauhi akhlak-akhlak yang hina dan rendah didalam kehidupannya”.
Inilah butir-butir dari adab-adab yang akan membimbing kita kepada ilmu dan bagaimana menunaikan ilmu tersebut. Dan kadang-kadang mungkin saja luput dari saya selain dari apa yang akan saya sebutkan, dan Allah-lah yang menunjuki kepada jalan yang lurus. (bersambung…Insyaa Allah)
—–
Footnote:
1. sebuah kitab yang membahas tentang permasalahan Ilmu dan Keutamaan Ilmu.
2. Maksudnya apabila seseorang mengambil nukilan topik atau pembahasan pada suatu kitab maka sepantasnyalah dia kembalikan sumbernya pada kitab tersebut, dengan menyebutkan nama kitab, jilid berapa dan siapa penulisnya. Jika perlu, lengkap dengan bab dan halamannya. Ini menunjukkan tentang ilmiyyahnya suatu kajian atau karya tulis. Hal ini bisa kita perhatikan pada karya-karya para salafunasholeh (orang-orang salaf terdahulu), mulai dari zaman tabi’in sampai saat ini, dimana dalam menukil suatu hadits sangat ilmiyah sekali. Mereka menukilkannya dari perkataan si fulan dan si fulan (bersanad) lengkap dengan derajat haditsnya. Namun bila kita lihat kitab-kitab sekarang yang ditulis oleh ustadz atau kyai-kyai yang mengikrarkan dirinya sebagai `ulama, mereka banyak mengarang kitab namun tidak ilmiyah, tanpa dalil yang jelas sumbernya., seperti tanpa menyebutkan sumber referensi judul kitab, jilidnya, bab dan halamannya.
3 Bila seorang murid bertanya kepada seorang guru atau `ulama, dimana guru tersebut belum tahu jawabannya, tidak salah bila guru tersebut minta uzur atau menunda untuk menjawabanya. Dan bila sang guru tsb memang benar-benar tidak tahu jawabannya, maka terlarang baginya untuk memaksakan diri menjawabnya tanpa dalil yang jelas atau mencari-cari jawaban sekenanya agar dia tidak merasa malu, karena bukan ‘aib bagi seorang guru untuk mengatakan “tidak tahu” kalau dia benar-benar memang tidak tahu atau menjawabnya dengan mengatakan Allahu a’lam (الله أعلم بالصواب ).
4 Disamping dia bersahabat dengan gurunya sambil menuntut ilmu, dia juga mempelajari adab yang dipraktekkan langsung gurunya tsb
5 Disamping dia bersahabat dengan gurunya sambil menuntut ilmu, dia juga mempelajari
adab yang dipraktekkan langsung gurunya tsb.
6 Di dalam Siyar alamin-nubala’, Jilid 8 halaman 113.
7 Di dalam al-Hilyah oleh Abi Nu’aim
8 Kitab Iqtidho’ al-Ilmiy wal ‘amali oleh Khatib al Baghdadiy, (hal. 170)
9 Di dalam kitab al-adabul syar’iyyah (Jilid 3, Halaman 552).
10 Di dalam Syarfu Ashabil Hadits oleh al-Khatib al-Baghdadiy (No. 283).
________________________________________
Salah seorang murid Imam Malik رحمه الله تعلى yakni Ibnu Wahhab رحمه الله berkata(5) : “Apa-apa yang kami nukilkan (kami dapatkan) tentang adab-adab dari imam Malik رحمه الله تعلى tersebut, lebih banyak daripada ilmu yang kami pelajari darinya.”
Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibnu Wahhab رحمه الله تعلى selaku seorang murid, betul-betul bergaul, belajar dan bermajelis dengan gurunya.
Hajat para penuntut ilmu terhadap ‘adab menuntut ilmu’ sangat penting sekali sebelum dia mulai melangkah untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu sangat masyur dan sangat banyak wasiat-wasiat dari para ‘ulama tentang pentingnya mempelajari adab ini.
Muqoddimah
Di dalam Muqoddimah kitab ini, Syaikh Hamad bin Ibrahim al-Utsman dengan panjang lebar menjelaskan tentang faedah-faedah dan keutamaan dalam menuntut `llmu serta perjalanan beliau dalam menyusun kitab ini, dari mulai cetakan pertama (1415 H) yang baru terkumpul 48 adab, cetakan ke dua (1416 H) dengan 60 adab, sampai pada cetakan ke empat ini dengan 109 adab. Beliau juga mengatakan bahwa kitab-kitab yang membahas tentang Adab Menuntut Ilmu sebelum ini juga sudah ada, seperti kitab Jami’u Bayanil Ilmiy wa Fadlihi (karya imam Abdil Bar رحمه الله تعلى pada abad ke 4 dan ke 5 Hijriah)(1) walaupun masih terdapat keterbatasan. Disamping itu, beliau juga menyinggung sedikit tentang pentingnya penyandaran atau penisbahan yang ilmiyah dalam penyusunan suatu kitab (2)
Namun karena keterbatasan ruang, tidak cukup seluruh isi muqoddimah beliau tersebut kita tampilkan pada tulisan ini, namun ada beberapa point yang penting untuk kita ketahui dan pahami. Beliau berkata: “Saya sebenarnya telah membukukan tentang faedah-faedah yang berhubungan dengan adab-adab dalam menuntut ilmu. Saya juga tambahkan apa-apa yang membuatnya bisa jadi lebih sempurna dan lebih tepat serta bermanfaat . Dan Allah Subhanahuwata’ala telah memudahkan saya untuk mengeluarkan kumpulan tersebut pada tahun 1415 H yaitu pada cetakan pertama. Saya berharap kepada Allah azzawajalla semoga pekerjaan tersebut menjadi amalan shaleh yang akan mengalir kepada saya sebagai balasan dari setiap orang yang membacanya atau yang mengambil manfaat darinya”
Dan pada cetakan yang keempat ini, disamping beliau menambah permasalahan baru dalam adab-adab menuntut ilmu, beliau juga menambahkan topik-topik dan bab-babnya, seperti akhwal para ‘ulama dalam masalah adab yaitu bagaimana etika duduk di dalam bermajelis, cara kita hadir di majelis `ilmu, penampilan dalam belajar, serta semangat kita dalam belajar tersebut. Disini dijelaskan juga oleh beliau mengenai adab baru yang tidak berhubungan dengan adab yang pertama tadi, sehingga jumlahnya menjadi 109 bentuk adab didalam menuntut ilmu tersebut.
Tidak diragukan lagi bahwasanya dalil-dalil dalam menuntut ilmu dan keutamaannya sangat banyak, baik dari al-Qur’an maupun dari as-Sunnah. Dan memaparkan dalil-dalil tersebut sangat penting sekali untuk menambah atau memperkuat tekad kita didalam menuntut ilmu tersebut. Dalam menuntut ilmu, ada adab-adab yang perlu dipelajari. Berpegang teguh dengan adab-adab tersebut akan membentuk dan mengokohkan etika seorang penuntut ilmu, baik antara dia dengan syaikhnya (gurunya) maupun antara dia dengan teman-temannya. Ini berguna untuk mempermudahnya dalam menuntut ilmu tersebut serta akan membimbingnya untuk melihat mana ilmu yang lebih penting dari yang penting. Bahkan manfaat dari adab-adab itu tadi akan menunjukkan padanya jalan dan metode ‘ulama-‘ulama yang betul-betul kokoh (‘ulama kibar) dalam menuntut ilmu tersebut. Ini artinya dapat terlihat dari sana, bagaimana metode dan cara para ‘ulama Salaf (ulama terdahulu) yang telah mendahuluinya dalam menuntut ilmu tersebut.
Dalam menuntut ilmu, seseorang bisa melakukannya dengan cara membaca kitab para ‘ulama dan yang terpenting adalah dengan cara mujalasah, yaitu duduk langsung dengan para ‘ulama tersebut. Hal ini tentu sangat membantu sekali dalam memahami pelajaran yang disampaikan dimana langsung bisa disaksikan bagaimana cara orang ‘alim atau ulama itu dalam mengajar, ketika men-syarah-kannya, ketika menjawab suatu pertanyaan(3) dan sebagainya.
Murid Imam Ahmad رحمه الله تعلى berkata: “Saya berteman dan bersahabat dengan Abu Abdillah (Imam Ahmad) dan saya pelajari darinya ilmu dan adab (4)
Salah seorang murid Imam Malik رحمه الله تعلى yakni Ibnu Wahhab رحمه الله berkata(5) : “Apa-apa yang kami nukilkan (kami dapatkan) tentang adab-adab dari imam Malik رحمه الله تعلى tersebut, lebih banyak daripada ilmu yang kami pelajari darinya.”
Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibnu Wahhab رحمه الله تعلى selaku seorang murid, betul-betul bergaul, belajar dan bermajelis dengan gurunya.
Hajat para penuntut ilmu terhadap ‘adab menuntut ilmu’ sangat penting sekali sebelum dia mulai melangkah untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu sangat masyur dan sangat banyak wasiat-wasiat dari para ‘ulama tentang pentingnya mempelajari adab ini.
Imam Malik رحمه الله تعلى pernah berkata kepada seorang pemuda dari kalangan masyarakat Quraisy (keturunan Qurasy); “Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab tersebut sebelum kamu memulai belajar ilmu”(6) Adab menuntut ilmu merupakan hajat yang bersangatan (penting sekali).
Berkata Yusuf bin al Husein(7) : “Dengan adab itu, ilmu tersebut dipahami.”
Berkata Abu Abdillah al-Balhi : “Adab ilmu tersebut lebih banyak daripada ilmu itu sendiri ”(8).
Juga berkata Imam Laits ibn sa’ad : “Ketika saya memperhatikan para penuntut ilmu hadits, lalu saya melihat pada mereka ada suatu kecacatan (suatu hal yang perlu dikritik dan dinasehati) lalu beliau berkata: “apa ini…? Kalian kepada adab sedikit dan kalian lebih berhajat kepada banyak ilmu”(9).
Ini menunjukkan kepada kita bahwa sangat pentingnya adab tersebut didalam menuntut ilmu.
Sebagaimana juga yang disampaikan oleh Imam Abu Bakr al-Ajurri (رحمه الله تعلى 10, beliau berkata: “Seorang ‘alim harus memiliki sifat-sifat dan keadaan-keadaan yang berbagai macam serta kedudukan-kedudukan yang wajib dia gunakan. Hal demikian harus diamalkannya disetiap saat. Maka baginya harus mengetahui sifat bagaimana cara dia dalam menuntut ilmu tersebut. Dan ketika ilmu sudah banyak disisinya maka hendaklah dia lazimkan dirinya kepada yang diwajibkan tersebut. Dia harus menguasai dan mengetahui sifat bagaimana bermajelis dengan para ‘ulama, sifat ketika dia belajar dari para ‘ulama tadi. Selain itu dia juga harus mengerti tentang sifat bagaimana cara mengajar, termasuk dalam munazaroh didalam masalah ilmu.
Dalam berfatwa, seorang `alim tersebut juga harus memiliki sifat dan adab, termasuk bagaimana bermajelis dengan para pemimpin, yang kalau seandainya dia diuji dengan duduk bersama pemimpin, dia tahu siapa yang berhak bermajelis dengannya dan siapa yang tidak berhak. Dan yang terpenting adalah dia harus memiliki sifat bagaimana beribadah kepada Allah ‘azzawajalla (antara dia dengan Allah ‘azzawajalla ). Sesungguhnya seorang `alim itu harus telah mempersiapkan setiap hak yang melazimkannya untuk mendirikan dan menunaikan hak tersebut. Dia juga harus mempersiapkan diri dari kejadian-kejadian yang baru, terutama terhadap kejelekan-kejelekan yang berhubungan dengan masalah agamanya. Dia harus berilmu dan mengetahui tentang hal-hal yang bisa mendatangkan ketaatan kepadaNya. Juga dia harus berilmu dengan apa-apa yang bisa menolak bala’ tersebut. Sesungguhnya seorang `alim itu harus ber-i’tiqod, menganut dan beramal dangan akhlak-akhlak yang baik serta menjauhi akhlak-akhlak yang hina dan rendah didalam kehidupannya”.
Inilah butir-butir dari adab-adab yang akan membimbing kita kepada ilmu dan bagaimana menunaikan ilmu tersebut. Dan kadang-kadang mungkin saja luput dari saya selain dari apa yang akan saya sebutkan, dan Allah-lah yang menunjuki kepada jalan yang lurus. (bersambung…Insyaa Allah)
—–
Footnote:
1. sebuah kitab yang membahas tentang permasalahan Ilmu dan Keutamaan Ilmu.
2. Maksudnya apabila seseorang mengambil nukilan topik atau pembahasan pada suatu kitab maka sepantasnyalah dia kembalikan sumbernya pada kitab tersebut, dengan menyebutkan nama kitab, jilid berapa dan siapa penulisnya. Jika perlu, lengkap dengan bab dan halamannya. Ini menunjukkan tentang ilmiyyahnya suatu kajian atau karya tulis. Hal ini bisa kita perhatikan pada karya-karya para salafunasholeh (orang-orang salaf terdahulu), mulai dari zaman tabi’in sampai saat ini, dimana dalam menukil suatu hadits sangat ilmiyah sekali. Mereka menukilkannya dari perkataan si fulan dan si fulan (bersanad) lengkap dengan derajat haditsnya. Namun bila kita lihat kitab-kitab sekarang yang ditulis oleh ustadz atau kyai-kyai yang mengikrarkan dirinya sebagai `ulama, mereka banyak mengarang kitab namun tidak ilmiyah, tanpa dalil yang jelas sumbernya., seperti tanpa menyebutkan sumber referensi judul kitab, jilidnya, bab dan halamannya.
3 Bila seorang murid bertanya kepada seorang guru atau `ulama, dimana guru tersebut belum tahu jawabannya, tidak salah bila guru tersebut minta uzur atau menunda untuk menjawabanya. Dan bila sang guru tsb memang benar-benar tidak tahu jawabannya, maka terlarang baginya untuk memaksakan diri menjawabnya tanpa dalil yang jelas atau mencari-cari jawaban sekenanya agar dia tidak merasa malu, karena bukan ‘aib bagi seorang guru untuk mengatakan “tidak tahu” kalau dia benar-benar memang tidak tahu atau menjawabnya dengan mengatakan Allahu a’lam (الله أعلم بالصواب ).
4 Disamping dia bersahabat dengan gurunya sambil menuntut ilmu, dia juga mempelajari adab yang dipraktekkan langsung gurunya tsb
5 Disamping dia bersahabat dengan gurunya sambil menuntut ilmu, dia juga mempelajari
adab yang dipraktekkan langsung gurunya tsb.
6 Di dalam Siyar alamin-nubala’, Jilid 8 halaman 113.
7 Di dalam al-Hilyah oleh Abi Nu’aim
8 Kitab Iqtidho’ al-Ilmiy wal ‘amali oleh Khatib al Baghdadiy, (hal. 170)
9 Di dalam kitab al-adabul syar’iyyah (Jilid 3, Halaman 552).
10 Di dalam Syarfu Ashabil Hadits oleh al-Khatib al-Baghdadiy (No. 283).
Labels:
Motivasi
Perbedaan Angan-angan dan Harapan
Perbedaan Angan-angan dan Harapan
________________________________________
Ketika seseorang mengharapkan sesuatu, dia harus mengetahui bahwa harapannya itu akan berkonsekuensi pada tiga hal:
1. Mencintai apa yang ia harapkan.
2. Ia merasa khawatir tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
3. Ia berusaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan segala kemampuannya
Ketika seseorang mengharapkan sesuatu, dia harus mengetahui bahwa harapannya itu akan berkonsekuensi pada tiga hal:
1. Mencintai apa yang ia harapkan.
2. Ia merasa khawatir tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
3. Ia berusaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan segala kemampuannya.
Harapan yang tidak disertai satupun dari tiga hal di atas maka itu hanya angan-angan belaka. Harapan dan angan-angan adalah dua perkara yang berbeda. Setiap orang yang mengharapkan sesuatu maka pada dirinya akan muncul perasaan takut kehilangan apa yang ia harapkan, akan berusaha menempuh jalan untuk mendapatkan apa yang ia harapkan. Bila takut kehilangan apa yang ia harapkan maka ia akan segera berupaya agar tidak terluputkan dari apa yang ia harapkan.
Dalam Jami’ At-Tirmidzi disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ
“Barangsiapa khawatir disergap musuh di waktu sahur, dia akan menghindarkan diri sejak awal malam. Barangsiapa yang berusaha menyelamatkan dirinya sejak awal, ia akan sampai kepada tempat tinggalnya. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu adalah surga.”
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi harapan kepada orang-orang yang mengerjakan amal shalih, demikian pula Ia memberi rasa takut kepada mereka. Maka ketahuilah bahwa harapan dan rasa takut yang bermanfaat adalah yang disertai amal shalih. Allah l berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لاَ يُشْرِكُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا آتَوْا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al-Mukminun: 57-61)
Al-Imam At-Tirmidzi dalam Jami’-nya menyebutkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai ayat ini. Aku berkata: “Apakah mereka adalah orang yang meminum minuman keras, berzina, dan mencuri?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيْقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِيْنَ يَصُوْمُوْنَ وَيُصَلُّوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ، وَيَخَافُوْنَ أَنْ لاَ تُتَقَبَّلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْخَيْرَاتِ
“Tidak wahai putri Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, bersedekah. Namun mereka khawatir kalau amalan yang mereka lakukan itu tidak diterima oleh Allah. Mereka itu orang yang sebenarnya berlomba-lomba berbuat amal kebaikan.”
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyebutkan sifat orang-orang yang bahagia dengan ihsan (berbuat baik) yang disertai khauf (khawatir). Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sifat orang-orang yang sengsara dengan berbuat keburukan yang disertai perasaan aman.
(Diambil dari Ad-Da`u wad Dawa` karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah hal. 46, diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=450
________________________________________
Ketika seseorang mengharapkan sesuatu, dia harus mengetahui bahwa harapannya itu akan berkonsekuensi pada tiga hal:
1. Mencintai apa yang ia harapkan.
2. Ia merasa khawatir tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
3. Ia berusaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan segala kemampuannya
Ketika seseorang mengharapkan sesuatu, dia harus mengetahui bahwa harapannya itu akan berkonsekuensi pada tiga hal:
1. Mencintai apa yang ia harapkan.
2. Ia merasa khawatir tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
3. Ia berusaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan segala kemampuannya.
Harapan yang tidak disertai satupun dari tiga hal di atas maka itu hanya angan-angan belaka. Harapan dan angan-angan adalah dua perkara yang berbeda. Setiap orang yang mengharapkan sesuatu maka pada dirinya akan muncul perasaan takut kehilangan apa yang ia harapkan, akan berusaha menempuh jalan untuk mendapatkan apa yang ia harapkan. Bila takut kehilangan apa yang ia harapkan maka ia akan segera berupaya agar tidak terluputkan dari apa yang ia harapkan.
Dalam Jami’ At-Tirmidzi disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ
“Barangsiapa khawatir disergap musuh di waktu sahur, dia akan menghindarkan diri sejak awal malam. Barangsiapa yang berusaha menyelamatkan dirinya sejak awal, ia akan sampai kepada tempat tinggalnya. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu adalah surga.”
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi harapan kepada orang-orang yang mengerjakan amal shalih, demikian pula Ia memberi rasa takut kepada mereka. Maka ketahuilah bahwa harapan dan rasa takut yang bermanfaat adalah yang disertai amal shalih. Allah l berfirman:
إِنَّ الَّذِيْنَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لاَ يُشْرِكُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا آتَوْا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al-Mukminun: 57-61)
Al-Imam At-Tirmidzi dalam Jami’-nya menyebutkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai ayat ini. Aku berkata: “Apakah mereka adalah orang yang meminum minuman keras, berzina, dan mencuri?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيْقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِيْنَ يَصُوْمُوْنَ وَيُصَلُّوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ، وَيَخَافُوْنَ أَنْ لاَ تُتَقَبَّلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْخَيْرَاتِ
“Tidak wahai putri Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, bersedekah. Namun mereka khawatir kalau amalan yang mereka lakukan itu tidak diterima oleh Allah. Mereka itu orang yang sebenarnya berlomba-lomba berbuat amal kebaikan.”
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyebutkan sifat orang-orang yang bahagia dengan ihsan (berbuat baik) yang disertai khauf (khawatir). Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sifat orang-orang yang sengsara dengan berbuat keburukan yang disertai perasaan aman.
(Diambil dari Ad-Da`u wad Dawa` karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah hal. 46, diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=450
Labels:
Motivasi
Wednesday, March 10, 2010
ARTI GURU BAGI MURID
Ingatkah kita ketika untuk pertama kalinya berhadapan dengan guru saat pertama kali sekolah, di SD atau TK? Saat itu kita masih seorang bocah kecil mungil, bahkan agak sedikit tambun karena terlalu banyak minum susu supaya pintar kata mamah. Kita saat itu masih belum tahu tentang seluk-beluk kehidupan di sekolah. Kita dituntun oleh ibu atau barangkali ayah, bahkan si bibi pembantu, sopir, tukang kebun (seperti banyak terjadi sekarang), dan dengan hati berdebar kita menyongsong suatu dunia yang baru, yang mungkin kita menghadapinya dengan harap-harap cemas, sekolah!
Banyak anak lain juga dibimbing oleh orang tuanya berkerumun di halaman sekolah, menunggu nasib yang sama dengan kita. Tentu saja kita belum mengenal mereka. Nakal-nakalkah ataukah baik-baik mereka kala itu? Dan Ketika nama kita dipanggil guru, kita menoleh kepada orang tua pembimbing kita. Beliau mengangguk dan tersenyum memberi dorongan. Seakan mengatakan pada kita, "Ayo kamu bisa! Maka dengan malu-malu dan ragu-ragu, kita melangkah menuju guru. Beliau mengulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang, tangan yang penuh cinta, tangan yang akan memberikan warna terhadap hidup kita. Beliau menerima kita dengan ramah, sambil mengelus-elus kepala kita kemudian mengajukan beberapa pertanyaan perkenalan kepada kita, "Siapa namamu, umurmu berapa tahun, rumahnya di mana, nama ayahmu siapa, nama ibumu siapa, dst."
Saat itu mungkin ada pula di antara kita yang tidak tahu nama ayah dan ibu, atau menjawab dengan ucapannya yang kurang jelas, saat itu barangkali kita menjawab semampunya. Mungkin saja jawaban kita tidak benar ataupun kurang jelas kedengarannya oleh beliau. Tapi guru tetap tersenyum mengangguk-angguk, entah apa makna anggukannya itu. Mereka tetap memuji kita, "Bagus Nak! Kau anak yang pintar," katanya sembari membimbing kita untuk duduk di bangku kelas sekolah yang baru dimasuki.
Demikianlah gambaran yang masih lekat dalam ingatan penulis, bahkan mungkin ingatan kita semua. Kalau ingat masa itu rasanya tak akan seorang pun lupa akan jasa gurunya. Mereka telah memberikan sentuhan keyakinan bagi siswanya untuk masuk melangkah ke dunia baru. Kalau ingat masa itu, rasanya tak akan seorang pun lupa akan jasa gurunya. Yang telah memberikan sentuhan keyakinan bagi siswanya untuk masuk melangkah ke dunia baru. Dunia yang tak pernah dialami sebelumnya, dunia yang dulu gelap kini terang benderang.
Menerawang masa itu, betapa guru kami seorang hebat dan kepintarannya luar biasa, tak ada rasanya orang yang lebih hebat dan pintar seperti mereka. Dalam benak kita kala itu, guru pasti akan tahu jawabannya untuk pertanyaan apa pun, yang mudah ataupun yang sulit. Kalau ditanya siapa orang yang paling pandai di sekitar lingkungan tempat tinggal, di kampung kita, rasa-rasanya jawabannya, "Gurulah yang paling pintar atau paling bisa, tak ada yang lain." Sebab hampir seratus persen orang tua kami di kampung saat itu buta huruf. Jarang sekali di desa kami yang tahu bahwa ibu kota negara Indonesia adalah Jakarta, atau Provinsi Jawa Barat adalah Bandung, kami tahu itu melalui pelajaran IPS yang diajarkan guru di sekolah. Maklumlah hampir semua warga di desa kami tidak "makan sekolahan", bahkan para orang tua banyak yang masih merasa presiden RI adalah Soekarno padahal sudah Soeharto.
Ya, guru bagi kami waktu itu merupakan sosok ajaib, kok serba banyak tahu, pandai sekali. Bayangkan pertama kali bisa tahu huruf "abcd" angka 1,2,3,4, dst., gurulah yang membimbingnya dengan sabar di kelas kala itu. Guru kami mengajarkan bagaimana merangkai huruf demi huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat sehingga menjadi nama sendiri, nama ayah, ibu, kakak, adik, dsb., dst. Kalau tak masuk sekolah dan diajari guru, mustahil rasanya semua itu bagi kita. Begitu senang dan bangga kalau hari itu bisa menuliskan sesuatu dan bisa membacanya, terlebih kalau guru menyuruh menuliskan dan membacanya di depan kelas. Pulang ke rumah tak sabar ingin segera menunjukkan kebolehan yang diperoleh dari sekolah pada seisi rumah, termasuk kakek dan nenek.
Kini guru kita kala itu ada yang masih aktif bertugas, purnabakti bahkan mungkin pula yang telah wafat. Tapi seperti kata pepatah, guru tetap guru, tak ada bekas guru ataupun bekas murid, yang ada adalah guru saya waktu sekolah di..! Atau murid saya waktu di sekolah anu..! Saat ini kita banyak yang sudah melupakan arti guru sebagai muridnya. Sering kita merasa bisa seperti saat ini bukan karena guru. Bahkan seorang kawan yang telah berhasil menyelesaikan studinya di sebuah universitas terkemuka merasa bahwa orang yang paling berjasa adalah profesor pembimbingnya di universitas, bahkan merasa karena kerja kerasnya sendiri.
Ya, guru memang seringi terlupakan begitu saja seperti tak pernah ada dan memberikan arti dalam kehidupan kita. Mungkin pula ada benarnya apa yang dikatakan Amelia Stanele, seorang guru teladan tahun 2003 dari Sekolah Menengah Blackmon Road, Ohio City. Katanya, "Orang akan selalu melupakan apa yang kita lakukan. Mereka juga akan selalu melupakan apa yang kita katakan. Tetapi mereka tidak akan pernah melupakan apa yang mereka rasakan karena kita."
Lain lagi kata Emiel Hamberlin, guru teladan dari Illinois, "Saya ingin murid-murid saya tahu bahwa saya peduli dengan apa yang mereka lakukan dalam hidup. Saya dan guru-guru lain menanamkan sukses ke dalam pikiran mereka, kemudian mendorong, mengguncang, membujuk, meneriaki, dan bahkan kadang memaksakan sukses ke dalam diri mereka." Lain Stanele dan Hamberlin lain pula Michael B. Kaiser, guru teladan dari Indiana, yang berkata pada muridnya, "Saya peduli pada kalian sebagai seseorang dan akan melakukan apa pun yang saya bisa untuk membantumu meraih sukses, sekarang atau sepuluh tahun kemudian. Kamu adalah murid saya seumur hidup, baik kamu suka atau tidak". Demikian ungkapan para guru teladan di Amerika yang termuat dalam buku yang berjudul Teacher of the Years. Luar biasa para guru ini.
Ya, guru kami, memang hebat sekali, beliau sabar dan tetap menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap profesi dan murid-muridnya. Beliau berkata pada kami, "Kamu harus terus sekolah yang tinggi, bapak/ibu sudah tidak ada lagi kesempatan, umur sudah tua. Harapan kami, kamulah yang bisa meneruskan cita-cita kami." Entah apa cita-cita guru kami itu. Mungkin membuat muridnya menjadi orang yang maju, pintar, bener, jujur dan berhasil dalam kehidupannya di kemudian hari. Ungkapan itulah rasanya yang paling tepat untuk melukiskan perasaan guru pada muridnya, seperti halnya orang tua pada anaknya. Mulia sekali harapan dan cita-cita mereka. Rasanya andaikan saja ada di antara muridnya itu jadi presiden, jenderal, profesor, rektor, gubernur, wali kota, atau apa pun, dan mereka baik-baik semua, mereka akan tersenyum penuh bangga. Tapi tatkala murid-muridnya menjadi penjahat, koruptor, maling, penindas rakyat, beliau akan kembali dan berkata, "Wahai muridku! Aku tak pernah mengajari kalian untuk menjadi orang seperti itu, melainkan jadi orang baik-baik yang berguna bagi kehidupan
Banyak anak lain juga dibimbing oleh orang tuanya berkerumun di halaman sekolah, menunggu nasib yang sama dengan kita. Tentu saja kita belum mengenal mereka. Nakal-nakalkah ataukah baik-baik mereka kala itu? Dan Ketika nama kita dipanggil guru, kita menoleh kepada orang tua pembimbing kita. Beliau mengangguk dan tersenyum memberi dorongan. Seakan mengatakan pada kita, "Ayo kamu bisa! Maka dengan malu-malu dan ragu-ragu, kita melangkah menuju guru. Beliau mengulurkan tangannya dengan penuh kasih sayang, tangan yang penuh cinta, tangan yang akan memberikan warna terhadap hidup kita. Beliau menerima kita dengan ramah, sambil mengelus-elus kepala kita kemudian mengajukan beberapa pertanyaan perkenalan kepada kita, "Siapa namamu, umurmu berapa tahun, rumahnya di mana, nama ayahmu siapa, nama ibumu siapa, dst."
Saat itu mungkin ada pula di antara kita yang tidak tahu nama ayah dan ibu, atau menjawab dengan ucapannya yang kurang jelas, saat itu barangkali kita menjawab semampunya. Mungkin saja jawaban kita tidak benar ataupun kurang jelas kedengarannya oleh beliau. Tapi guru tetap tersenyum mengangguk-angguk, entah apa makna anggukannya itu. Mereka tetap memuji kita, "Bagus Nak! Kau anak yang pintar," katanya sembari membimbing kita untuk duduk di bangku kelas sekolah yang baru dimasuki.
Demikianlah gambaran yang masih lekat dalam ingatan penulis, bahkan mungkin ingatan kita semua. Kalau ingat masa itu rasanya tak akan seorang pun lupa akan jasa gurunya. Mereka telah memberikan sentuhan keyakinan bagi siswanya untuk masuk melangkah ke dunia baru. Kalau ingat masa itu, rasanya tak akan seorang pun lupa akan jasa gurunya. Yang telah memberikan sentuhan keyakinan bagi siswanya untuk masuk melangkah ke dunia baru. Dunia yang tak pernah dialami sebelumnya, dunia yang dulu gelap kini terang benderang.
Menerawang masa itu, betapa guru kami seorang hebat dan kepintarannya luar biasa, tak ada rasanya orang yang lebih hebat dan pintar seperti mereka. Dalam benak kita kala itu, guru pasti akan tahu jawabannya untuk pertanyaan apa pun, yang mudah ataupun yang sulit. Kalau ditanya siapa orang yang paling pandai di sekitar lingkungan tempat tinggal, di kampung kita, rasa-rasanya jawabannya, "Gurulah yang paling pintar atau paling bisa, tak ada yang lain." Sebab hampir seratus persen orang tua kami di kampung saat itu buta huruf. Jarang sekali di desa kami yang tahu bahwa ibu kota negara Indonesia adalah Jakarta, atau Provinsi Jawa Barat adalah Bandung, kami tahu itu melalui pelajaran IPS yang diajarkan guru di sekolah. Maklumlah hampir semua warga di desa kami tidak "makan sekolahan", bahkan para orang tua banyak yang masih merasa presiden RI adalah Soekarno padahal sudah Soeharto.
Ya, guru bagi kami waktu itu merupakan sosok ajaib, kok serba banyak tahu, pandai sekali. Bayangkan pertama kali bisa tahu huruf "abcd" angka 1,2,3,4, dst., gurulah yang membimbingnya dengan sabar di kelas kala itu. Guru kami mengajarkan bagaimana merangkai huruf demi huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat sehingga menjadi nama sendiri, nama ayah, ibu, kakak, adik, dsb., dst. Kalau tak masuk sekolah dan diajari guru, mustahil rasanya semua itu bagi kita. Begitu senang dan bangga kalau hari itu bisa menuliskan sesuatu dan bisa membacanya, terlebih kalau guru menyuruh menuliskan dan membacanya di depan kelas. Pulang ke rumah tak sabar ingin segera menunjukkan kebolehan yang diperoleh dari sekolah pada seisi rumah, termasuk kakek dan nenek.
Kini guru kita kala itu ada yang masih aktif bertugas, purnabakti bahkan mungkin pula yang telah wafat. Tapi seperti kata pepatah, guru tetap guru, tak ada bekas guru ataupun bekas murid, yang ada adalah guru saya waktu sekolah di..! Atau murid saya waktu di sekolah anu..! Saat ini kita banyak yang sudah melupakan arti guru sebagai muridnya. Sering kita merasa bisa seperti saat ini bukan karena guru. Bahkan seorang kawan yang telah berhasil menyelesaikan studinya di sebuah universitas terkemuka merasa bahwa orang yang paling berjasa adalah profesor pembimbingnya di universitas, bahkan merasa karena kerja kerasnya sendiri.
Ya, guru memang seringi terlupakan begitu saja seperti tak pernah ada dan memberikan arti dalam kehidupan kita. Mungkin pula ada benarnya apa yang dikatakan Amelia Stanele, seorang guru teladan tahun 2003 dari Sekolah Menengah Blackmon Road, Ohio City. Katanya, "Orang akan selalu melupakan apa yang kita lakukan. Mereka juga akan selalu melupakan apa yang kita katakan. Tetapi mereka tidak akan pernah melupakan apa yang mereka rasakan karena kita."
Lain lagi kata Emiel Hamberlin, guru teladan dari Illinois, "Saya ingin murid-murid saya tahu bahwa saya peduli dengan apa yang mereka lakukan dalam hidup. Saya dan guru-guru lain menanamkan sukses ke dalam pikiran mereka, kemudian mendorong, mengguncang, membujuk, meneriaki, dan bahkan kadang memaksakan sukses ke dalam diri mereka." Lain Stanele dan Hamberlin lain pula Michael B. Kaiser, guru teladan dari Indiana, yang berkata pada muridnya, "Saya peduli pada kalian sebagai seseorang dan akan melakukan apa pun yang saya bisa untuk membantumu meraih sukses, sekarang atau sepuluh tahun kemudian. Kamu adalah murid saya seumur hidup, baik kamu suka atau tidak". Demikian ungkapan para guru teladan di Amerika yang termuat dalam buku yang berjudul Teacher of the Years. Luar biasa para guru ini.
Ya, guru kami, memang hebat sekali, beliau sabar dan tetap menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap profesi dan murid-muridnya. Beliau berkata pada kami, "Kamu harus terus sekolah yang tinggi, bapak/ibu sudah tidak ada lagi kesempatan, umur sudah tua. Harapan kami, kamulah yang bisa meneruskan cita-cita kami." Entah apa cita-cita guru kami itu. Mungkin membuat muridnya menjadi orang yang maju, pintar, bener, jujur dan berhasil dalam kehidupannya di kemudian hari. Ungkapan itulah rasanya yang paling tepat untuk melukiskan perasaan guru pada muridnya, seperti halnya orang tua pada anaknya. Mulia sekali harapan dan cita-cita mereka. Rasanya andaikan saja ada di antara muridnya itu jadi presiden, jenderal, profesor, rektor, gubernur, wali kota, atau apa pun, dan mereka baik-baik semua, mereka akan tersenyum penuh bangga. Tapi tatkala murid-muridnya menjadi penjahat, koruptor, maling, penindas rakyat, beliau akan kembali dan berkata, "Wahai muridku! Aku tak pernah mengajari kalian untuk menjadi orang seperti itu, melainkan jadi orang baik-baik yang berguna bagi kehidupan
Labels:
Motivasi
Tuesday, March 2, 2010
CERITA RAKYAT
AWAL MULANYA KELELAWAR MENGGANTUNG DENGAN KAKI DI ATAS KEPALA DI BAWA
Dahulu kala hiduplah seorang Pak Tani di dekat hutan Rimba, setiap harinya Pak tani pergi kehutan mencari kayu bakar untuk keperluan dapur dan selebihnya dibawa kepedesaan untuk dijual, begitulah keseharian Pak tani. Pak tani adalah seorang yang tekun dan rajin bekerja, di ladang Pak tani ditanami sayur, singkong, dan pisang.
Suatu hari Pak tani ke ladang ingin mengambil pisang yang suda matang yang dilihat beberapa hari yang lalu, namun sesampainya di ladang pak tani sedih dan kecewa karena pisang yang diharapkan suda matang kini lalap habis dimakan kelelawar namun perbuatan sang kelelawar itu belum ketahuan sama pak tani. Degan persaan sedih dan menjengkelkan Pak tani pulang keruma tampa membawa pisang.
Beberapa minggu kemudian Pak tani ke ladang ingin mengambil pisang namun kejadian seperti beberapa minggu yang lalu masi terulang lagi, pisang yang diharapkan sauda matang kini lalap habis di makan sang kelelawar, dengan perasaan penasaran dan ingin tau siapa pelakunya maka Pak tani membuat siasat. Pada malam harinya pak tani pergi ke ladang, sesampainya di ladang Pak tani duduk dan diam dekat pohong pisang, dengan hati yang sabar pak tani duduk menunggu namun tidak lama kemudian Sang kelelawar pun datang memakan pisang Pak tani.
Pak tani : “o…..Ternyata kamu pelakunya. “ ( berbicara dalam hati )
Pak tani : “ Makan saja tu pisang sampe puas karena besok kamu akan tau
akibatnya.” ( Pak tani mengiklaskan pisangnya dimakan Kelelawar )
setelah itu pak tani pulang dengan hati yang senang karena pelakunya suda ketahuan. Keesokan paginya pergi ke hutan untuk bertemu dengan raja rimba yaitu sang Harimau. Sesampainya di tempat tujuan Pak tani pun disambut oleh Sang Rimba.
Sang rimba : “ Ada maksud apa kedatangan Tuan menghadap kepada saya ? “
Pak tani : “ Sebelumnya hamba minta maaf Tuan “ (dengan kerendahan hati pak
tani meminta maaf).
Sang rimba : “ Ya……………..”
Pak tani : “ Maksud kedatangan hamba ingin melaporkan kejadian semalam Tuan “
Sang rimba : “ Maksud tuan apa ? “
Pak tani : “ Begini tuan, semalam pisang hamba lalap habis dimakan Sang
kelelawar “
sang rimba : “ Apakah perkataan tuan benar ?”
Pak tani : “ Iya tuan, pisang hamba dimakan oleh Sang kelelawar dan kejadian ini
bukan hanya kali ini saja Tuan tetapi suda berulang-ulang kali.”
Sang rimba : “ Maafkan kami Tuan, dan kami berjanji untuk mengadili perbuatan
sang Kelelawar. “
Pak tani : “ Terima kasih Tuan, kalau begitu hamba juga ingin pamit. “
Sesuda bertemu dengan Sang rimba, Pak tani pun pulang kerumanya.
Karena Sang rimba marah maka binatang-binatang dikumpulkan untuk menyaksikan sang kelelawar akan diadili , kemudian sang keleawar di panggil oleh Sang rimba.
Sang keleawar : “ Ada apa hamba dipanggil untuk menghadap kepada Tuan ? “
Sang rimba : “ Begini, apa benar semalam kamu telah memakan pisang milik Pak
tani? “( berbicara dengan suara yang keras dan tegas )
sang kelelawar : “ Iya Tuan, maafkan hamba. “ ( dengan kepala tunduk ketakutan
menjawab dengan jujur )
sang rimba : “ Kesalahan tetap dibayar dengan hukuman “
sang kelelawar : “ Hukuman apa Tuan yang ditimpahkan kepada hamba Tuan ? “
sang rimba : “ Mulai hari ini kamu harus menggantung dengan kepala di bawa dan
kaki di atas. “
Sang kelelawar : “ Sampai kapan Tuan hamba harus menjalani hukuman ini ? “
Sang Rimba : “ Sampai akhir hayat hidupmu “
Sang kelelawar : “ Ampuni kesalahan hamba tuan, tolong ringankan beban hukuman
hamba dan hamba berjanji tidak akan mengulangi lagi. “
sang rimba : “ Hukuman itu suda seadil-adilnya saya berikan kepada kamu, dan
hukuman itu harus kamu jalani . “
Itulah hukuman yang diberikan kepada Sang kelelawar menggantung dengan kepala di bawa dan kaki di atas, begitulah keseharian sang kelelawar menjalani hukumannya hingga sang kelelawar mendapatkan keturunan, karena kebiasaan Sang kelelawar menggatung maka anak cucunya pun mengikuti jejak sang nenek moyangnya.
Itulah kebiasaan kelelawar yang kita lihat sampai sekarang .
NAMA : ANDI NURILMI
KELAS : III BANGUNAN
Dahulu kala hiduplah seorang Pak Tani di dekat hutan Rimba, setiap harinya Pak tani pergi kehutan mencari kayu bakar untuk keperluan dapur dan selebihnya dibawa kepedesaan untuk dijual, begitulah keseharian Pak tani. Pak tani adalah seorang yang tekun dan rajin bekerja, di ladang Pak tani ditanami sayur, singkong, dan pisang.
Suatu hari Pak tani ke ladang ingin mengambil pisang yang suda matang yang dilihat beberapa hari yang lalu, namun sesampainya di ladang pak tani sedih dan kecewa karena pisang yang diharapkan suda matang kini lalap habis dimakan kelelawar namun perbuatan sang kelelawar itu belum ketahuan sama pak tani. Degan persaan sedih dan menjengkelkan Pak tani pulang keruma tampa membawa pisang.
Beberapa minggu kemudian Pak tani ke ladang ingin mengambil pisang namun kejadian seperti beberapa minggu yang lalu masi terulang lagi, pisang yang diharapkan sauda matang kini lalap habis di makan sang kelelawar, dengan perasaan penasaran dan ingin tau siapa pelakunya maka Pak tani membuat siasat. Pada malam harinya pak tani pergi ke ladang, sesampainya di ladang Pak tani duduk dan diam dekat pohong pisang, dengan hati yang sabar pak tani duduk menunggu namun tidak lama kemudian Sang kelelawar pun datang memakan pisang Pak tani.
Pak tani : “o…..Ternyata kamu pelakunya. “ ( berbicara dalam hati )
Pak tani : “ Makan saja tu pisang sampe puas karena besok kamu akan tau
akibatnya.” ( Pak tani mengiklaskan pisangnya dimakan Kelelawar )
setelah itu pak tani pulang dengan hati yang senang karena pelakunya suda ketahuan. Keesokan paginya pergi ke hutan untuk bertemu dengan raja rimba yaitu sang Harimau. Sesampainya di tempat tujuan Pak tani pun disambut oleh Sang Rimba.
Sang rimba : “ Ada maksud apa kedatangan Tuan menghadap kepada saya ? “
Pak tani : “ Sebelumnya hamba minta maaf Tuan “ (dengan kerendahan hati pak
tani meminta maaf).
Sang rimba : “ Ya……………..”
Pak tani : “ Maksud kedatangan hamba ingin melaporkan kejadian semalam Tuan “
Sang rimba : “ Maksud tuan apa ? “
Pak tani : “ Begini tuan, semalam pisang hamba lalap habis dimakan Sang
kelelawar “
sang rimba : “ Apakah perkataan tuan benar ?”
Pak tani : “ Iya tuan, pisang hamba dimakan oleh Sang kelelawar dan kejadian ini
bukan hanya kali ini saja Tuan tetapi suda berulang-ulang kali.”
Sang rimba : “ Maafkan kami Tuan, dan kami berjanji untuk mengadili perbuatan
sang Kelelawar. “
Pak tani : “ Terima kasih Tuan, kalau begitu hamba juga ingin pamit. “
Sesuda bertemu dengan Sang rimba, Pak tani pun pulang kerumanya.
Karena Sang rimba marah maka binatang-binatang dikumpulkan untuk menyaksikan sang kelelawar akan diadili , kemudian sang keleawar di panggil oleh Sang rimba.
Sang keleawar : “ Ada apa hamba dipanggil untuk menghadap kepada Tuan ? “
Sang rimba : “ Begini, apa benar semalam kamu telah memakan pisang milik Pak
tani? “( berbicara dengan suara yang keras dan tegas )
sang kelelawar : “ Iya Tuan, maafkan hamba. “ ( dengan kepala tunduk ketakutan
menjawab dengan jujur )
sang rimba : “ Kesalahan tetap dibayar dengan hukuman “
sang kelelawar : “ Hukuman apa Tuan yang ditimpahkan kepada hamba Tuan ? “
sang rimba : “ Mulai hari ini kamu harus menggantung dengan kepala di bawa dan
kaki di atas. “
Sang kelelawar : “ Sampai kapan Tuan hamba harus menjalani hukuman ini ? “
Sang Rimba : “ Sampai akhir hayat hidupmu “
Sang kelelawar : “ Ampuni kesalahan hamba tuan, tolong ringankan beban hukuman
hamba dan hamba berjanji tidak akan mengulangi lagi. “
sang rimba : “ Hukuman itu suda seadil-adilnya saya berikan kepada kamu, dan
hukuman itu harus kamu jalani . “
Itulah hukuman yang diberikan kepada Sang kelelawar menggantung dengan kepala di bawa dan kaki di atas, begitulah keseharian sang kelelawar menjalani hukumannya hingga sang kelelawar mendapatkan keturunan, karena kebiasaan Sang kelelawar menggatung maka anak cucunya pun mengikuti jejak sang nenek moyangnya.
Itulah kebiasaan kelelawar yang kita lihat sampai sekarang .
NAMA : ANDI NURILMI
KELAS : III BANGUNAN
Labels:
Motivasi
HATI EMAS
Ade itulah nama Aku sejak kecil Aku ini menderita, hidup di dunia hanya sebatang kara, orang tua Aku dipanggil sama Tuhan yang Maha Kuasa sejak Aku berumur 3 tahun, famili dan harta benda milik orang tua Aku entah kemana, untung saja masi ada orang yang baik mau menerima aku bahkan Dia menyekolahkan aku tetapi setelah aku tamat dari Sekolah Dasar orang tua angkat Aku dipanggil oleh Sang Pengcita, mau tak mau meski sakit terasa kenyataan ini suda milik Aku.
Meski hidup sebatang kara namun Aku tetap berusaha untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama, untuk membiayai Sekolah Aku maka Aku harus membanting tulang kerja, tidak kenal siang malam, panas terik matahari dan hujan Aku tetap berjalan. Waktu belajar,Sekolah, memulung dan sujud kepada Tuhan sangat disiplin meski Aku ini pelajar dan pemulung. Kadang hati ini sedih ketika teman-teman menghina Aku hanya sahabat Aku Si Lilon yang bisa menerima Aku apa adanya. Lilon sahabat Aku dari Sekolah Dasar sampai sekarang yang setia, meski Si Lilon ini anak yang malas akan tetapi Lilon suka menolong.
Kini Aku suda duduk dibangku Sekolah Menengah Atas semangat belajar semakin tinggi ditamba lagi Aku ini orang yang aktiv di organisasi, dari Sekolah Dasar Sampai Sekolah Menengah Atas prestasi Aku selalu baik, prestasi inilah yang mengangkat Aku dari hinaan orang. Meski sepulang dari Sekolah Aku harus mulung tetapi Aku tetap luangkan waktu untuk belajar kelompok bersama-sama teman-teman, Nina dan Lilon adalah teman kelompok belajar Aku. Pada suatu hari Nina mendapat tugas dari Guru Kewarganegaraan yaitu ”Menyelidiki Kehidupan Anak Pemulung” dan Si Nina menjadikan Aku sebagai objek pengakajian kehidupan anak pemulung, tampa rasa malu Aku siap untuk menceritakan keseharian Aku sebagai anak pemulung dan menceritakan suka duka Aku, selama satu pekan setiap hari Nina datang ke rumah kontrakan Aku untuk mengkaji kehidupan Aku. Entah alasan apa si Nina menyimpan hati sama Aku padahal Nina tau siapa Aku ini , Aku hanyalah anak pemulung sedangkan Nina berasal dari keluarga bangsawan dan hartawan ibaratkan Aku dengan Nina bumi dan langit. Aku tidak percaya dan seperti bermimpi ketika Nina ungkapkan perasaan suka padaku, banyak alasan yang Aku berikan agar Nina berubah pikiran tetapi Nina tetap mencintai Aku dan tidak mempersoalkan kelas sosial dan status sosial antara Aku dan dia, akhirnya aku dan Nina sama-sama cinta pertama. Selama Aku dan Nina berstatus pacaran Nina semakin merendah diri, berteman siapa saja, suka menolong dan prestasi Nina meningkat. Nina orangnya penyayang, setia, jujur, baik dan sangat perhatian sama Aku, Aku bingung bagaimana cara Aku untuk membalasnya. Terkadang Nina meneteskan air mata saat melihat Aku sedang mulung tapi kenyataan inilah yang Nina harus terima, Aku bangga dengan Nina meski Aku hanyalah anak pemulung tetapi Nina tidak merasa malu pacaran dengan Aku. Hari demi hari tak terasa Aku lulus dari Sekolah Menengah Atas.
Melihat kondisi Aku yang serba kekurangan tidak memungkinkan Aku untuk lanjut ke perguruan tinggi namun Nina selalu mendorong Aku untuk melanjutkan ke perguruan tinggi bahkan Nina siap membantu dari segi apapun, atas dorongan Nina dan dan bantuan Nina Aku bisa melanjutkan Sekolah, Aku sangat bersyukurr karena Aku bisa masuk ke Uneversitas Negeri Fakultas Ekonomi bersama Nina , Lilon sahabat Aku dari SD-SMA tidak bersama Aku lagi karena Lilon melanjutkan pendidikan ke Bandung. Sekarang Aku tidak mulung lagi karena Aku dapat kerjaan sebagai Marketing disuatu Minimarket, upahnya suda mencukupi keseharian Aku, untuk biaya kulia Aku bebas biaya memang dari Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi selalunya Aku bebas biaya. Empat tahun berlalu gelaran Sarjana pun Aku rai. Nina memelukku dan menangis ketika Aku ucapkan kata-kata “ Andai saja bapak dan ibu masi ada pasti bapak dan ibu bahagia dan bangga karena Ade suda Sarjana, Tuhan, Tuhan, Tuhan Aku ingin memeluk bapak ibu Aku, Ade rindu dengan mereka” . Nina mengusap air mata yang menetes dipipi dan berjanji “ kak Ade, Nina berjanji akan membuat kakak tersenyum pokoknya Nina akan setia sama Kak Ade, takkan ada yang lain disisi Nina hanya untuk kak Ade saja. Janji Kak” Aku dan Nina suda 7 tahun menjalani hubungan kasihsayang tampa ada masalah, selama ini Nina Aku kenal dengan penyayang, setia, romantis, sabar dan penolong membuat Aku sangat takut kehilangan Nina. Hari ini hari Ulang Tahun Nina yang ke-23 dihari Ulang Tahunnya Aku cuman bisa memberikan kain yang bertulis dari karya Aku sendiri, meski begitu, pemberian itu Nina tetap tersenyum dan menganggap kado paling special. Tiga hari setelah Ulang Tahun Nina, Nina meminta Aku untuk melamarnya karena di usia yang ke-23 ini akan dinikahkan jadi mau tak mau Aku harus jika tidak maka Nina akan dinikahkan dengan orang lain, Aku merasa bingung karena Aku belum dapat kerjaan ditambah lagi dengan keadaan Aku yang pas-pasan akan tetapi Aku harus memberanikan diri, Aku ke rumah orang tua Nina untuk berterusterang namun orang tua Nina tidak menerima Aku karena alasan perbedaan kelas sosial dan status sosial
“ Ade seharusnya kamu sadar dan berpikir, kamu taukan Nina itu anak bangsawan dan hartawan jadi mustahil jika Nina dinikahkan pria semacam kamu” mendengar perkataan ibunda Nina Aku seakan tak berdaya, Aku coba menjelaskan kepada ibunda Nina jika Aku dan Nina suda saling cinta sejak duduk dibangku SMA tetapi ibunda Nina malah memukul wajah Aku dan mencaci maki Aku dan mengusir dari rumahnya, sejak kejadian itu Aku dan Nina tidak perna bertemu lagi Aku dapat kabar jika Nina dibawa pergi, bertubi-tubi cobaan ini datang pada Aku belum hilang rasa sakit karena hinaan ibunda Nina kini Aku harus meninggalkan kampung halaman Aku karena fikna orang tua Nina , para warga mengusir Aku. Entah salah Aku apa sehingga Aku harus dapat cobaan ini, kehilangan Nina , hinaan bunda Nina , dan harus meninggalkan kampung halaman membuat Aku sangat terpukul. 2 tahun berlalu rasa sayang kepada Nina masi hidup meski Aku coba lupakan dia, rasa rindu seakan tak perna pudar, “ Tuhan apa kabarnya pujaan hatiku ?, masikah Aku dihatinya ?, yakinkan Aku Tuhan Nina bukan milikku” .
Hari ini Aku coba untuk melamar kerja di sautu persahaan, entah keajaiban apa Direktur perusahaan itu adalah Lilon sahabat Aku dulu dan Aku diterima di tempat kerja Lilon, Lilon yang aku kenal dulu periang dan penolong kini Lilon menjadi sombong dan angkuh , waktu luangnya saja Lilon enggang bertemu dengan Aku. Di hari Ulang Tahun pertama anak Lilon semua pegawai diundang kerumah Lilon, saat Aku ke acara Ulang Tahun anak Lilon Aku sangat terkejut ketika melihat lilon & Nina meniup lilin, ternyata istri Lilon adalah Nina meski sakit terasa aku tetap memberi ucapan selamat kepada Lilon & Nina. Dunia terasa berubah saat Aku melihat sifat lilon & Nina, orang yang perna Aku kenal baik kini berat tersenyum padaku, orang yang perna menjadi kekasih Aku dan perna menjadi sahabat Aku kini seakan tak ada masa lalu lagi. Cuman ibunya Nina yang menyapa Aku di pesta itu namun sapaan itu hanyalah sapaa hinaan. “Nina Nina …. Kenapa harus Lilon sih yang kau jadikan pengdampingmu padahal kamu tau Aku & Lilon sahabat dari SD-SMA, dan kamu Lilon kenapa harus Nina yang kamu jadikan istri kamu padahal kamu tau Nina pacar Aku, kenapa kalian tega ?.”
Aku merasa kasihan kepada Nina karena Lilon kini penjadi pemabuk & suka ditempat hiburan malam, Aku ingin mengatakan kepada Nina namun Aku takut mencampuri urusan mereka, Aku cuman berharap semoga mereka bisa bahagia. Ketika perbautan Lilon diketahui oleh Nina rumah tangga mereka kini mulai renggang & tidak akur lagi, dalam rumah tangga mereka yang retak sangkanya Lilon Aku biang keladinya, Lilon menuduh Aku mengadukan perbautannya kepada Nina , kemarahan Lilon tega memecat Aku dengan tidak hormat, Lilon bahkan memukul Aku dan mengusir Aku dari perusahaannya, ketika Aku keluar dari kantor Lilon ada 2 orang asing yang mengikuti Aku dari belakang, orang-orang itu adalah suruhan lilon. Kedua orang itu berusaha untuk melukai Aku akupun berusaha untuk menyalamatkan diri berlari dan seketika itu mobil ating menyambar Aku, untung saja orang yang menyambar Aku mau bertangguang jawab, nama dia Wulan. Kejadian itu membuat Aku dan wulan menjadi akrab, Wulan juga memasukkan Aku di perusahaan milik Ayahnya dan Aku mendapat posisi Sekertaris. Waktu demi waktu kehidupan Aku semakin meningkat dan membaik, orang tua wulan menjodohkan Aku dan Wulan.
“ Bu Pak, Ade rindu dengan kalian, Bu Ade yang dulu perna mulung dan sering dihina kini menjadi orang sukses, Bu begitu banyak penderitaan yang Ade rasakan, orang-orang yang Ade cintai ade harus kehilangannya termasuk Bapak & Ibu, andai Ibu masi hidup pasti Ibu bahagia melihat kesuksesan Ade, apakah Ibu & Bapak melihat kami bertiga Ade, Wulan, dan cucu Ibu sekarang mengziarai Ibu & bapak “
Meski hidup sebatang kara namun Aku tetap berusaha untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama, untuk membiayai Sekolah Aku maka Aku harus membanting tulang kerja, tidak kenal siang malam, panas terik matahari dan hujan Aku tetap berjalan. Waktu belajar,Sekolah, memulung dan sujud kepada Tuhan sangat disiplin meski Aku ini pelajar dan pemulung. Kadang hati ini sedih ketika teman-teman menghina Aku hanya sahabat Aku Si Lilon yang bisa menerima Aku apa adanya. Lilon sahabat Aku dari Sekolah Dasar sampai sekarang yang setia, meski Si Lilon ini anak yang malas akan tetapi Lilon suka menolong.
Kini Aku suda duduk dibangku Sekolah Menengah Atas semangat belajar semakin tinggi ditamba lagi Aku ini orang yang aktiv di organisasi, dari Sekolah Dasar Sampai Sekolah Menengah Atas prestasi Aku selalu baik, prestasi inilah yang mengangkat Aku dari hinaan orang. Meski sepulang dari Sekolah Aku harus mulung tetapi Aku tetap luangkan waktu untuk belajar kelompok bersama-sama teman-teman, Nina dan Lilon adalah teman kelompok belajar Aku. Pada suatu hari Nina mendapat tugas dari Guru Kewarganegaraan yaitu ”Menyelidiki Kehidupan Anak Pemulung” dan Si Nina menjadikan Aku sebagai objek pengakajian kehidupan anak pemulung, tampa rasa malu Aku siap untuk menceritakan keseharian Aku sebagai anak pemulung dan menceritakan suka duka Aku, selama satu pekan setiap hari Nina datang ke rumah kontrakan Aku untuk mengkaji kehidupan Aku. Entah alasan apa si Nina menyimpan hati sama Aku padahal Nina tau siapa Aku ini , Aku hanyalah anak pemulung sedangkan Nina berasal dari keluarga bangsawan dan hartawan ibaratkan Aku dengan Nina bumi dan langit. Aku tidak percaya dan seperti bermimpi ketika Nina ungkapkan perasaan suka padaku, banyak alasan yang Aku berikan agar Nina berubah pikiran tetapi Nina tetap mencintai Aku dan tidak mempersoalkan kelas sosial dan status sosial antara Aku dan dia, akhirnya aku dan Nina sama-sama cinta pertama. Selama Aku dan Nina berstatus pacaran Nina semakin merendah diri, berteman siapa saja, suka menolong dan prestasi Nina meningkat. Nina orangnya penyayang, setia, jujur, baik dan sangat perhatian sama Aku, Aku bingung bagaimana cara Aku untuk membalasnya. Terkadang Nina meneteskan air mata saat melihat Aku sedang mulung tapi kenyataan inilah yang Nina harus terima, Aku bangga dengan Nina meski Aku hanyalah anak pemulung tetapi Nina tidak merasa malu pacaran dengan Aku. Hari demi hari tak terasa Aku lulus dari Sekolah Menengah Atas.
Melihat kondisi Aku yang serba kekurangan tidak memungkinkan Aku untuk lanjut ke perguruan tinggi namun Nina selalu mendorong Aku untuk melanjutkan ke perguruan tinggi bahkan Nina siap membantu dari segi apapun, atas dorongan Nina dan dan bantuan Nina Aku bisa melanjutkan Sekolah, Aku sangat bersyukurr karena Aku bisa masuk ke Uneversitas Negeri Fakultas Ekonomi bersama Nina , Lilon sahabat Aku dari SD-SMA tidak bersama Aku lagi karena Lilon melanjutkan pendidikan ke Bandung. Sekarang Aku tidak mulung lagi karena Aku dapat kerjaan sebagai Marketing disuatu Minimarket, upahnya suda mencukupi keseharian Aku, untuk biaya kulia Aku bebas biaya memang dari Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi selalunya Aku bebas biaya. Empat tahun berlalu gelaran Sarjana pun Aku rai. Nina memelukku dan menangis ketika Aku ucapkan kata-kata “ Andai saja bapak dan ibu masi ada pasti bapak dan ibu bahagia dan bangga karena Ade suda Sarjana, Tuhan, Tuhan, Tuhan Aku ingin memeluk bapak ibu Aku, Ade rindu dengan mereka” . Nina mengusap air mata yang menetes dipipi dan berjanji “ kak Ade, Nina berjanji akan membuat kakak tersenyum pokoknya Nina akan setia sama Kak Ade, takkan ada yang lain disisi Nina hanya untuk kak Ade saja. Janji Kak” Aku dan Nina suda 7 tahun menjalani hubungan kasihsayang tampa ada masalah, selama ini Nina Aku kenal dengan penyayang, setia, romantis, sabar dan penolong membuat Aku sangat takut kehilangan Nina. Hari ini hari Ulang Tahun Nina yang ke-23 dihari Ulang Tahunnya Aku cuman bisa memberikan kain yang bertulis dari karya Aku sendiri, meski begitu, pemberian itu Nina tetap tersenyum dan menganggap kado paling special. Tiga hari setelah Ulang Tahun Nina, Nina meminta Aku untuk melamarnya karena di usia yang ke-23 ini akan dinikahkan jadi mau tak mau Aku harus jika tidak maka Nina akan dinikahkan dengan orang lain, Aku merasa bingung karena Aku belum dapat kerjaan ditambah lagi dengan keadaan Aku yang pas-pasan akan tetapi Aku harus memberanikan diri, Aku ke rumah orang tua Nina untuk berterusterang namun orang tua Nina tidak menerima Aku karena alasan perbedaan kelas sosial dan status sosial
“ Ade seharusnya kamu sadar dan berpikir, kamu taukan Nina itu anak bangsawan dan hartawan jadi mustahil jika Nina dinikahkan pria semacam kamu” mendengar perkataan ibunda Nina Aku seakan tak berdaya, Aku coba menjelaskan kepada ibunda Nina jika Aku dan Nina suda saling cinta sejak duduk dibangku SMA tetapi ibunda Nina malah memukul wajah Aku dan mencaci maki Aku dan mengusir dari rumahnya, sejak kejadian itu Aku dan Nina tidak perna bertemu lagi Aku dapat kabar jika Nina dibawa pergi, bertubi-tubi cobaan ini datang pada Aku belum hilang rasa sakit karena hinaan ibunda Nina kini Aku harus meninggalkan kampung halaman Aku karena fikna orang tua Nina , para warga mengusir Aku. Entah salah Aku apa sehingga Aku harus dapat cobaan ini, kehilangan Nina , hinaan bunda Nina , dan harus meninggalkan kampung halaman membuat Aku sangat terpukul. 2 tahun berlalu rasa sayang kepada Nina masi hidup meski Aku coba lupakan dia, rasa rindu seakan tak perna pudar, “ Tuhan apa kabarnya pujaan hatiku ?, masikah Aku dihatinya ?, yakinkan Aku Tuhan Nina bukan milikku” .
Hari ini Aku coba untuk melamar kerja di sautu persahaan, entah keajaiban apa Direktur perusahaan itu adalah Lilon sahabat Aku dulu dan Aku diterima di tempat kerja Lilon, Lilon yang aku kenal dulu periang dan penolong kini Lilon menjadi sombong dan angkuh , waktu luangnya saja Lilon enggang bertemu dengan Aku. Di hari Ulang Tahun pertama anak Lilon semua pegawai diundang kerumah Lilon, saat Aku ke acara Ulang Tahun anak Lilon Aku sangat terkejut ketika melihat lilon & Nina meniup lilin, ternyata istri Lilon adalah Nina meski sakit terasa aku tetap memberi ucapan selamat kepada Lilon & Nina. Dunia terasa berubah saat Aku melihat sifat lilon & Nina, orang yang perna Aku kenal baik kini berat tersenyum padaku, orang yang perna menjadi kekasih Aku dan perna menjadi sahabat Aku kini seakan tak ada masa lalu lagi. Cuman ibunya Nina yang menyapa Aku di pesta itu namun sapaan itu hanyalah sapaa hinaan. “Nina Nina …. Kenapa harus Lilon sih yang kau jadikan pengdampingmu padahal kamu tau Aku & Lilon sahabat dari SD-SMA, dan kamu Lilon kenapa harus Nina yang kamu jadikan istri kamu padahal kamu tau Nina pacar Aku, kenapa kalian tega ?.”
Aku merasa kasihan kepada Nina karena Lilon kini penjadi pemabuk & suka ditempat hiburan malam, Aku ingin mengatakan kepada Nina namun Aku takut mencampuri urusan mereka, Aku cuman berharap semoga mereka bisa bahagia. Ketika perbautan Lilon diketahui oleh Nina rumah tangga mereka kini mulai renggang & tidak akur lagi, dalam rumah tangga mereka yang retak sangkanya Lilon Aku biang keladinya, Lilon menuduh Aku mengadukan perbautannya kepada Nina , kemarahan Lilon tega memecat Aku dengan tidak hormat, Lilon bahkan memukul Aku dan mengusir Aku dari perusahaannya, ketika Aku keluar dari kantor Lilon ada 2 orang asing yang mengikuti Aku dari belakang, orang-orang itu adalah suruhan lilon. Kedua orang itu berusaha untuk melukai Aku akupun berusaha untuk menyalamatkan diri berlari dan seketika itu mobil ating menyambar Aku, untung saja orang yang menyambar Aku mau bertangguang jawab, nama dia Wulan. Kejadian itu membuat Aku dan wulan menjadi akrab, Wulan juga memasukkan Aku di perusahaan milik Ayahnya dan Aku mendapat posisi Sekertaris. Waktu demi waktu kehidupan Aku semakin meningkat dan membaik, orang tua wulan menjodohkan Aku dan Wulan.
“ Bu Pak, Ade rindu dengan kalian, Bu Ade yang dulu perna mulung dan sering dihina kini menjadi orang sukses, Bu begitu banyak penderitaan yang Ade rasakan, orang-orang yang Ade cintai ade harus kehilangannya termasuk Bapak & Ibu, andai Ibu masi hidup pasti Ibu bahagia melihat kesuksesan Ade, apakah Ibu & Bapak melihat kami bertiga Ade, Wulan, dan cucu Ibu sekarang mengziarai Ibu & bapak “
Labels:
Motivasi
cerita rakyat
Si Tanduk Panjang
Dahulu di sebuah desa tinggallah sebuah keluarga miskin, keluarga itu terdiri atas seorang ayah, ibu dan seorang anak perempuan.
Ayah dan ibu tersebut sangat sayang kepada anak. Namun, mereka merasa sedih karena belum dikaruniai anak laki-laki..
Setiap hari mereka berdo’a kepada tuhan agar dikaruniai seorang anak laki-laki sebagai penyambung keturunannya, bulan bergabti tahunpun berlalu, tiada jemu mereka berdo’a, akhirnya siistri hamil. Keluarga itupun merasa gembira, terlbih diketahui ternyata lahir laki-laki. Namun kegembiraan mereka mendadak lenyap setelah mengetahui ternyata kepala si bayi laki-laki ada tanduknya. Mereka merasa malu dan takut dihina maupun diejek oleh orang-orang sedesa.
Pada malam hari bayi laki-laki itu dimasukkan kedalam peti, dengan sebutir telur ayam dan secangkir beras lalu dihanyutkan ke sungai.
Kakak perempuan si bayi mengetahui perbuatan orang tuanya. Ia sangat sedih. Diam-diam ia meninggalkan rumah dan mengikuti adiknya yang dihanyutkan ke sungai.
Ia terus melangkah dan mengikuti adiknya yang hanyut. Beberapa malam kemudian terdengar adiknya menangis karena lapar. Maka si kakak perempuan itu menghiburkan dengan berkata-kata , “ Adikku saying si Tanduk panjang, janganlah engkau menangis, jika engkau lapar makanlah sebutir beras agar engkau kenyang ! “ Tak berapa lama kemudian tangis adiknya berhenti.
Beberapa hari kemudian kakak bayi itu mendengar anak ayam dari peti yang hanyut di tengah sungai. Ia tak mendekati peti itu, menduga telur yang dibekalkan kepada adiknya telah menetas.
Jika mendengar adiknya menangis, ia terus menghiburnya dengan ucapan kasih saying. Berbulan bulan peti itu hanyut, dengan susah payah dan setia kakak terus mengikutinya, pada suatu peti itu terbawa arus sungai ke tepian, Si kakak dengan wajah gembira berusaha meraihnya.
Peti diraihnya. Ketika peti dibuka, melompatlah seorang anak laki-laki yang gagah dan tampan. Tidak terlihat tanduk di kepalanya. Dibelakangnya seekor anak ayam jantan yang bagus, maka bergembiralah Si kakak perempuan kenyataan itu, ia bersyukur kepeda tuhan, ia telah menyelamatkan adiknya.
Dahulu di sebuah desa tinggallah sebuah keluarga miskin, keluarga itu terdiri atas seorang ayah, ibu dan seorang anak perempuan.
Ayah dan ibu tersebut sangat sayang kepada anak. Namun, mereka merasa sedih karena belum dikaruniai anak laki-laki..
Setiap hari mereka berdo’a kepada tuhan agar dikaruniai seorang anak laki-laki sebagai penyambung keturunannya, bulan bergabti tahunpun berlalu, tiada jemu mereka berdo’a, akhirnya siistri hamil. Keluarga itupun merasa gembira, terlbih diketahui ternyata lahir laki-laki. Namun kegembiraan mereka mendadak lenyap setelah mengetahui ternyata kepala si bayi laki-laki ada tanduknya. Mereka merasa malu dan takut dihina maupun diejek oleh orang-orang sedesa.
Pada malam hari bayi laki-laki itu dimasukkan kedalam peti, dengan sebutir telur ayam dan secangkir beras lalu dihanyutkan ke sungai.
Kakak perempuan si bayi mengetahui perbuatan orang tuanya. Ia sangat sedih. Diam-diam ia meninggalkan rumah dan mengikuti adiknya yang dihanyutkan ke sungai.
Ia terus melangkah dan mengikuti adiknya yang hanyut. Beberapa malam kemudian terdengar adiknya menangis karena lapar. Maka si kakak perempuan itu menghiburkan dengan berkata-kata , “ Adikku saying si Tanduk panjang, janganlah engkau menangis, jika engkau lapar makanlah sebutir beras agar engkau kenyang ! “ Tak berapa lama kemudian tangis adiknya berhenti.
Beberapa hari kemudian kakak bayi itu mendengar anak ayam dari peti yang hanyut di tengah sungai. Ia tak mendekati peti itu, menduga telur yang dibekalkan kepada adiknya telah menetas.
Jika mendengar adiknya menangis, ia terus menghiburnya dengan ucapan kasih saying. Berbulan bulan peti itu hanyut, dengan susah payah dan setia kakak terus mengikutinya, pada suatu peti itu terbawa arus sungai ke tepian, Si kakak dengan wajah gembira berusaha meraihnya.
Peti diraihnya. Ketika peti dibuka, melompatlah seorang anak laki-laki yang gagah dan tampan. Tidak terlihat tanduk di kepalanya. Dibelakangnya seekor anak ayam jantan yang bagus, maka bergembiralah Si kakak perempuan kenyataan itu, ia bersyukur kepeda tuhan, ia telah menyelamatkan adiknya.
Labels:
Motivasi
Monday, March 1, 2010
ILMU
Ilmu tentang agama merupakan pintu paling besar menuju sifat qona’ah, karena merupakan jalan untuk mengetahui hakikatnya, manfaat-manfaatnya, dan bahaya-bahaya terlalaikan ia.karena itu, anda dapati, kebanyakan orang-orang zuhud yang tulus, ahli ibadah, dan waro’ adalah para ulama dan penuntut ilmu. Ini akan diketahui dengan jelas oleh siapapun yang memperhatikan biografi para ulama salaf dalam refensi-refensi sejarah. Ilmu-ilmu agama akan menjelaskan kepada pemiliknya tentang hakikat dunia, menyiapkan rahasia-rahasianya dan bahaya-bahaya terlalu beroreantasi kepadanya; disamping itu juga mendorongnya untuk mencintai serta mengarahkan seluruh perhatian kepada akhirat.
Labels:
Motivasi
MENGAMBIL PELAJARAN DARI KEADAAN ORANG-0RANG YANG LEMAH
Orang yang bertakwa atau orang mukmin, bagaimanapun keadaannya baik buruknya, ia pasti pasti telah dikaruniakan nikmat-nikmat yang tidak mungkin dihitung kecuali ALLAH. Bisa saja seoramg mukmin bersikap tak acuh terhadap nikmat-nikmat ALLAH dan tidak menyadari betapa besar nilai nikmat tersebut, jika dirinya selalu melihat kepada orang lain yang mendapatkan nikmat lebih baik darinya, akan tetapi jika ia membandingkan keadaanya dengan orang-orang yang keadaanya lebih buruk darinya, ia akan menyadari betapa agungnya nikmat yang dikaruniakan oleh ALLAH kepadanya. ALLAH telah memgambarkan tentang manusia, bahwa:
’’ dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta’’ (al-adiyat 100:8)
‘’dan kamu kamu mencinta harta benda harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.’’ (Al-Fart[89]:20)
Labels:
Motivasi
Sunday, August 12, 2007
Hidup ini Sederhana
Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.
* Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.
Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb.
Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil untuk kerja di tempatnya.
Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil untuk kerja di tempatnya.
* Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.
Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik."
Ibu menjawab: "Mengapa?"
Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."
Ibu menjawab: "Mengapa?"
Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."
* Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.
Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.
Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur."
Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."
Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur."
Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."
* Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.
Seorang pelatih golf berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?"
Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."
Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."
Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."
Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana ."
Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."
Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."
Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."
Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana ."
* Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."
Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."
Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."
Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
* Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.
“YANG PALING PENTING, HIDUP INI HARUS BERMANFAAT BUAT ORANG LAIN.”
From : Takdir Ilyas
Labels:
Motivasi
Tuesday, July 3, 2007
Kiat Menjadi Sukses
Kegagalan adalah guru yang paling bijak. Orang sukses adalah orang yang terus mencoba, meskipun telah mengalami banyak kegagalan. Mereka tidak pernah berhenti mencoba dan mencoba lagi. Hidup bagi mereka adalah peluang untuk mencapai kesuksesan. Kiat-kiat berikut ini disarikan dari hasil penelitian terhadap orang-orang sukses. Apa sebenarnya yang mereka ketahui dan lakukan untuk menjadi sukses?
Berikut kiat menjadi orang sukses yang bisa Anda teraplkan:
Berikut kiat menjadi orang sukses yang bisa Anda teraplkan:
- Orang ukses mau mengambil resiko. Mereka berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang dan gesit mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman, dan mau terus mengambil resiko untuk meraih sukses.
- Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia. Mereka memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai ketrampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa ketrampilan ini memberi nilai kepada ketrampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.
- Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan, mereka memilih bekerja di mana mereka dapat unggul. Orang sukses menyukai tantangan, mereka menikmati pencapaian puncak permainan mereka, apakah di pekerjaan, lapangan tennis atau lapangan golf.
- Orang sukses adalah pelajar seumur hidup. Mereka menyadari, pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas, artinya mencoba ide baru, membaca buku, surat kabar, majalah dan menggunkan internet merupakan bentuk pendidikan pula. Karena itu tetaplah mengalir sesuai perubahan ketertarikan dan kemampuan Anda, dan nikmati perubahan. Ini akan membantu Anda tumbuh dan merasakan lebih percaya diri.
- Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan, dan ini meluas pada hal-hal lain. Mereka percaya gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan tertinggi. Orang sukses berbuat bagaikan pelatih bagi orang lain, dengan menyuguhkan pesan-pesan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senang melihat orang lain membuat tonggak sejarah dalam kehidupan mereka.
- Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ada yang dengan cara melakukan beberapa pekerjaan setiap hari pada bidang berbeda.
- Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-tengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finish. Mereka memanfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.
From : Takdir Ilyas
Labels:
Motivasi
Subscribe to:
Posts (Atom)



