Pages

Subscribe:
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, September 19, 2011

Cerpen tentang Jodoh - Lysa Lavonne

Ini dia, untuk pertama kali berdasarkan penilaian kami para editor, ada cerpen kiriman yang temanya tentang jodoh. Tapi bukan perjodohan atau ramalan jodoh lho. Ini sebuah cerpen yang bercerita tentang jodoh. Kalau sobat penasaran langsung aja baca!
---------------------

Cerpen tentang Jodoh
by : lysa (lysa_lavonne@yahoo.com)

Dulu orang bilang jika ada sepasang merpati hinggap diatas pohon natal bersama dengan turunnya salju maka mereka berjodoh. buktinya hubunganku dengan Steven baik-baik saja jadi aku tidak mempercayainya.

“Hai, dar udah lama nunggu?” suara hangatnya terdengar dari dalam mobil.
“Ugh… aku udah hampir mati, bentar lagi aku khan mau lomba piano. Kamu malah telat jemputnya sih Darling!”jawabku jengkel.
“Sori deh, ayo masuk dulu!” jawab Steven dengan lembut.

Sorenya
“Uwaaaahhh senangnya, aku juara 1 dalam lomba piano tadi,
kamu mau makan apa honey, aku traktir deh.” Kataku senang.
“Ayo… aku aja yang traktir… darling mau makan di resto yang mana?” sambut Steven.
“Ok deh… resto yang biasa saja, ga usah mahal-mahal hon” kataku sambil mengangguk senang.

Mesin mobil berderu kencang… seolah terbawa irama riang mereka berdua.
“hon, ati-ati! Nanti bahaya…”kataku mengingatkan
“ah, tenang aja… Aku khan sudah ahli”kata steven.


Ciiiiiitttt! Brrrruaaaakkk! Ternyata kekhawatiranku benar terjadi, mobil Steven menabrak truk gandeng yang sedang mogok. Steven berusaha melindungiku dengan tubuhnya, pandanganku kabur kemudian gelap. Selanjutnya aku tak ingat apa-apa lagi yang kuingat adalah Steven berusaha untuk melindungiku.

Saat aku sadar, aku sudah ada disebuah rumah sakit dan gigauanku untuk memangil nama Steven terus menerus dan semakin lama semakin keras karena aku tak ingin ditinggalkannya. Ketika aku melihat sekelilingku aku menemukan vina disampingku sambil melihatku dengan mata sembab.

“Vin, Steven mana? Dia gak kenapa-kenapa khan?”tanyaku dengan bibir bergetar.

“…”

Vina terdiam cukup lama. Kemudian aku bangun dari tempat tidurku dan menatap mata Vina yang berkaca-kaca.

“Vin, jawab aku … mana Steven Apa yang terjadi?”tanyaku lagi dengan mata yang sembab juga.
“Tenang ve, tenang… kamu tenang dulu, Steven masih ada diruang ICU. Keadaannya masih kritis, kamu tenang ya”jawab Vina sambil memelukku.

Aku berdiri sambil terseok-seok menuju ruang ICU dan berkata dalam hati ya Tuhan slamatkanlah ia, ku mohon ya Tuhan. Lampu operasi masih menyala, air mataku mulai mengalir deras dan mengatakan dalam hati Tuhan selamatkanlah orang yang paling kucintai. vina memegang tanganku dengan erat dan mengingatkanku untuk tetap tabah sedangkan pandanganku tertuju pada lampu itu.

2 jam kemudian
“Bagaimana dok keadaannya?”kataku dengan bibir bergetar.
“Maaf… dia tak tertolong”jawab dokter sambil menggelengkan kepala.
Badanku lemas dan tak dapat berkata-kata, aku sudah tak dapat tertawa, pandanganku kosong. Dengan langkah lunglai aku menghampiri jenasah Steven kupeluk tubuhnya yang kaku sambil berteriak memanggil namanya.

“Aku tak percaya ini, aku tak percaya semua ini! Bangun honey… bangun… jangan tinggalin aku… plis! Aku sayang ma kamu… plis jangan tinggalin aku!!!”rintihku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya, air mataku mengalir deras. Jam berdetak, suara hening, pikiranku melayang kembali indahnya bersama dengannya, kepalaku tertunduk lesu. Masih terdengar suara isak tangis ibu dan ayah Steven .

Setahun setelah kejadian itu akupun memutuskan untuk memulai lembaran baru, biarkanlah Steven menjadi kenangan abadi dihatiku, Aku masih tetap mencintainya tapi aku harus melupakannya. Tak mungkin aku hidup dimasa lalu, Aku sadar Steven tak mungkin kembali dan aku tak mau hidup dibayangi dengan kenangan steve… aku harus bisa untuk melangkah maju walaupun itu menyakitkan.

setahun kemudian
“Ve, kelihatannya anak baru itu keren deh”kata vina sahabatku.

“Namanya Devon”lanjutnya lagi… aku tak menghiraukannya.
Setiap ada cowok kata-katanya selalu saja begitu karena ia tahu aku masih memikirkan Steven, tapi mau tak mau akhirnya aku menoleh juga.

“Yah… lumayanlah”jawabku menyakinkan vina.
“nah gitu donk itu baru temen gue”seru vina.
Tiba-tiba ia mendekati jendela dan berseru pada Devon.
“Wei… Devon ada yang mau kenalan nih!”

“…”

Devon hanya menoleh dan mengangguk. Aku bingung mau berkata apa tapi akhirnya aku tersenyum dan ia pun membalas senyumanku.

Dua bulan telah berlalu hubunganku dengan Devon hanya sebatas teman.
“Eh, bentar lagi natal lho!”kata Devon
“Emang khan… salju udah sering banget turun.”jawabku.
“Wei… kata orang dulu kalau ada sepasang merpati hinggap dipohon natal saat turun salju maka mereka jodoh lho.”cerita vina.
“Udah tau”jawabku dan devon hampir bebarengan.
Aku tersentak dan kemudian kami bertiga tertawa, kami sedang berjalan-jalan dikota yang sedang ramai sambil melihat pohon natal besar yang ada ditengah kota.

Esok malam… tepat nya malam natal, Devon meneleponku untuk melihat pohon natal yang ada dikota. Hatiku senang sekali, aku tak pernah segembira ini setelah peninggalan Steven. Aku tak tahu bagaimana perasaanku pada Devon tapi kuputuskan untuk mempercayai legenda merpati itu.

“Ugh… dingin banget disini!”kataku sambil duduk didepan pohon natal yang berkilauan.
Devon mendekapku untuk memberikan kehangatan dan aku hanya bisa ternganga.
“Udah enakan?”kata devon sambil tersenyum.

“…”

“Eh lihat diatas sana! Ada merpati putih” kata devon bersemangat.
“Iya…”kataku mengiyakan.

Tak lama salju mulai turun sedikit demi sedikit. Hatiku mulai bertanya-tanya apakah ia adalah jodohku? Orang yang sama sekali berlainan watak dengan Steve? Orang yang kucintakah?

Thursday, September 8, 2011

Kutitipkan cintaku pada-Mu

Muhammad Aqil Al Fatih... Itu nama salah satu mahasiswa sekaligus seniorku. Mahasiswa lain biasa memanggilnya ‘Aqil’, tapi tidak denganku, aku lebih senang memanggilnya ‘Alfath’. Kebiasaanku mengganti nama orang memang sudah melekat kuat pada diriku.

Semua berawal dari PROSPEK. Kebetulan aku mahasiswa baru disalah satu Universitas Islam di kota Sangatta Kaltim. Jadi mau tidak mau aku harus mengikuti “Program Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus” (PROSPEK). Oh iya, namaku ‘Azzna’, nama yang diambil dari nama depan dan akhiran, begitulah orang-orang mendeskripsikannya.

Lengkapnya ‘Azzatul Khusna’. Waktu itu tepat seorang panitia prospek berteriak nyaring disampingku. ‘Owh My God, very noisy...!!!’ hanya kata itu yang aku ucapkan dalam hati. Setelah aku membelokkan kepalaku kurang lebih berbelok 90 derajat, kira-kira segitulah, karna aku juga tidak sempat mengukur berapa derajat kepalaku berbelok. Seorang laki-laki bertubuh tidak terlalu tinggi, berhidung mancung dan kalau aku bandingkan dengan laki-laki kebanyakan, dia termasuk laki-laki yang berkulit putih bersih, wajahnya terlihat sangat kalem dan religius.

Tapi lupakan dulu gambaran dari panitia yang aku ceritakan tadi, karna aku juga bukan type-kal cewe yang selalu menomor satukan fisikly. Dan semenjak itu ada kebencian yang tertanam dihatiku. Aku hanya kurang suka dengan sikapnya itu, aku tidak suka ada orang yang berteriak didekatku.

Waktu terus berjalan, dari prospek hari pertama, hari kedua, hari ketiga, dan aku merasa ada yang aneh denganku. Diam-diam aku suka memperhatikan seniorku itu, bahkan dengan berbagai alasan aku mendekatinya, tidak bisa disebut mendekatinya juga, karna aku hanya ingin melihatnya lebih dekat, paling tidak dari jarak yang tidak lebih dari satu meter. ‘sampah’.. yahh hanya itu yang bisa aku jadikan alasan. Dia berdiri tidak jauh dari tong sampah berukuran sedang, dua kali aku mondar-mandir memungut kertas/ plastic yang tidak terpakai, jelas memang aku seperti orang yang kurang kerjaan, tapi aacchhh.. aku tidak peduli, aku hanya ingin melihat kakak senior, just it.

Tiba waktunya para mahasiswa baru (peserta prospek., termasuk aku) harus meminta tanda tangan panitia-panitia prospek. Banyak panitia yang baik hati memberikan tanda tangannya tanpa si mahasiswa harus bersusah payah menuruti satu persatu perintah dari panitia. Tapi sepertinya hanya aku yang aneh, aku sibuk mencari dimana keberadaan salah satu panitia disana. Alhamdulillah, aku melihatnya, ‘Thanks God’, aku langsung mendekati rerumunan mahasiswa yang sedang asik meminta tanda tangan dari seorang panitia. Dan kini bukan satu meter lagi jarak aku dengan panitia itu.

Aku bisa melihat jelas wajahnya, dia berada tepat dihadapanku, aku melihat dia bertanda tangan atas nama ‘Muhammad Aqil Al Fatih’. Itu dia namanya, sekarang aku tau siapa namanya. Nama yang indah seperti keindahan yang terpancar dari wajahnya. Dan otomatis, aku tidak mau melewatkan kesempatan itu, setelah mendapat tanda tangannya, aku masih tetap berdiri tegap disana, memandangnya dengan kekaguman yang luar biasa, mengagumi ciptaan Allah dengan jantung yang terus berdetak kencang.
Prospek hari ke’empat, sekaligus prospek terakhir yang kami ikuti, aku dan mahasiswa lainnya, senang, sedih bercampur seperti gado-gado yang tidak enak dibenakku. Pukul dua siang, seorang dosen memberikan materi terakhirnya. Aku mendengarkan dengan seksama, tetapi otakku terhenti saat aku menyadari ‘Muhammad Aqil Al Fatih’ berdiri disamping kursi yang sedang kududuki. ‘Astaga, Kak Alfath’,.. aku terpekik pelan, aku terlalu senang dengan detik ini, detik yang memporak-porandakan otak dan hatiku. Dan bukan lagi seperti gado-gado yang bercampur aduk, melainkan seperti tomat yang diblender, berkolaborasi dengan gula, air, es batu yang teraduk dalam satu tempat. (huuuhhhh.. ...) aku menarik pelan nafasku dan mulai mencari inspirasi untuk memunculkan ide-ide konyol sesion 2, selain ide sampah kemarin. (Ohh inspirasi.. datanglah.. datanglah..)

Aku menjatuhkan pulpenku, bertujuan agar Kak Alfath bersedia mengambilkan untukku, dan sial.. pulpen itu tidak bisa diajak kolaborasi dengan baik. Ntah apanya yang salah, tanganku yang terlalu berdosa atau memang pulpenku yang sedang tidak mood bekerjasama denganku. Pulpen itu meluncur dengan tidak terkontrol. Alhasil, seorang laki-laki bertubuh besar yang duduk didepanku berbaik hati mengambil pulpen itu untukku. ‘makasih’.. itu yang aku ucapkan pada laki-laki itu dengan imbuhan senyum kecut yang sok’ manis.

Berhubung hari terakhir prospek, jadi malamnya diadakan acara ‘malam penutupan prospek’. Panjang ceritanya aku bisa dapat nomor HP Kak Alfath, tetap dengan berbagai alasan konyol, yang intinya, seusai prospek aku sudah ber’sms’an dengannya, yang aku tau sekarang, dia orang yang cukup pendiam, kaku seperti robot, atau memang karna aku yang belum mengenalnya lebih dekat. Tapi tenang saudara-saudara, sikap Kak Alfath yang seperti itu tidak lantas mematahkan semangatku.

Kampus mengadakan kemah mahasiswa disebuah pedesaan selama empat hari. Selama kemah mahasiswa itu, aku semakin menambah pengalaman dan wawasanku. Berbaur dengan warga sekitar, sangat menyenangkan. Terlebih lagi dengan adanya Kak Alfath, meski ada dia, tidak setiap saat aku bisa bertemu dengannya. Kami memang ber’sms’an, tapi bukan berarti kami jadi dekat, yang seperti aku bilang tadi, Kak Alfath seperti robot, tidak asik, kalaupun tidak sengaja aku bertemu dengannya, tidak ada tegur sapa sama sekali. Lambat laun, masih melalui sms, aku mulai tidak canggung lagi, obrolanku juga agak menjurus kearah rayuan, aku tidak peduli, aku bukan orang yang gengsi untuk merayu lawan jenisku, jelas yang aku maksud disini bukan rayuan seperti perempuan genit, nakal atau sebagainya. Kalau tidak percaya, aku akan beri salah satu rayuan terbaikku itu,

“Ehm.. kalau boleh jujur, ada satu hal yang aku suka dari kakak, aku suka mata kakak, indah,, bersinar,, aku boleh panggil kakak bintang?”. . gimana menurut kalian? Bukan seperti perempuan genit yang berusaha menggoda lawan jenisnya kan? Dari situ Kak Alfath mulai merespon, aku tidak tau itu harapan atau hanya sekedar formalitas saja. Kak Alfath juga mulai tidak canggung membalas kata-kataku, kami bisa lebih saling mengenal satu sama lain, dengan berbagai pertanyaan yang bertujuan memancing sang idolapun kukerahkan satu persatu, hingga aku tau banyak tentang Kak Alfath, dari makanan favorit, minuman favoritnya sampai hal terkecil aku berusaha untuk mengetahuinya. Dia terlihat lebih menyenangkan bila seperti ini.

And all my love
I’m holding on forever
Reaching for the love that seem
So far..
So i say a little prayer
Andhope my dream will take me
There
Where the skies are blue
To see you once again my love
Oversees from coast to coast
To find the place i love the most
Where the fields are green
To see you once again my love


Lirik lagu favoritku ‘westlife-my love’ persis menggambarkan perasaanku saat ini.
Empat hari berlalu, ‘kemah mahasiswapun hanya bisa dikenang. Akhirnya aku kembali dirumah. Aku masih bingung dengan perasaanku kepada Kak Alfath. Aku terus memikirkannya, dan itu membuat hatiku tidak tenang. Seusai shalat maghrib, aku menengadahkan tanganku pada-Nya.

“Ya Allah,, Ya Rob,, nama Kak Alfath sungguh semakin melekat dihati ini, kebencian yang pernah tertanam pada diri hamba kepada Kak Alfath sudah tidak ada dihati hamba, kebencian itu lantas menjadi jembatan untuk hamba masuk kedalam hati Kak Alfath, tentu hamba hanya ingin selalu melihat Kak Alfath dalam keadaan yang baik, berikanlah yang terbaik untuknya, amiinn..”

Didalam bait doaku, aku selalu melampirkan nama Kak Alfath, perasaanku akhir-akhir ini gelisah tidak melihat Kak Alfath. Ini pertama kali aku merasakan hal aneh seumur hidupku. Apa aku jatuh cinta? Ntahlah.. sepertinya begitu. Semakin hari aku semakin tersiksa dengan perasaan ini, aku menangis dalam keheningan malam-malamku. Dadaku terasa sesak bila terus-terusan sepeti ini, cinta pertama yang kualami terasa menyesakkan. Bukan hanya perasaanku, tapi semua yang aku punya untuk mencintai Kak Alfath, semuanya terasa sakit. Kembali aku berdoa pada shalat tahajud yang aku lakukan,

“Maha Suci Allah.. Engkau yang tau perasaan hamba, sungguh sampai detik ini, hamba tidak bisa berhenti memikirkan Kak Alfath,” tanpa kusadari air mata jatuh tepat dimukena putih yang aku kenakan. “Apa hamba salah jika hamba mengharapkan Kak Alfath mempunyai perasaan yang sama? Apa hamba terlalu egois jika hamba berpikir seperti itu? Tunjukan jalanmu Ya Allah..”

Tidak bisa memiliki orang yang kusayang, terlebih lagi ini cinta pertamaku, itu sangat menyedihkan. Apa yang harus kulakukan agar Kak Alfath bisa sedikit membuka hatinya untukku?

Kurang lebih beberapa hari ini aku mencari tau informasi tentang Kak Alfath melalui teman-teman seangkatannya. Kini aku tau, perempuan seperti apa yang bisa menarik hatinya. Aku memulai dengan merubah penampilanku menjadi lebih feminim, semua orang tau aku bukan perempuan yang bisa dikatakan feminim, bahkan sangat jauh dari itu, aku lebih sering memakai rok sekarang, walaupun itu tidak nyaman untukku, tapi kalau dipikir dengan akal sehat, memang bagus merubah diri menjadi yang lebih baik, karna kodrat seorang perempuan harus seperti itu.

Malam ini aku memberanikan diri untuk menanyakan suatu pada Kak Alfath melalui sms yang aku kirimkan padanya, aku juga bukan perempuan yang suka berlama-lama berbasa-basi. Ini sms yang aku kirimkan,

“Kak, apa kakak udah punya pacar?”. Seketika aku merasa bodoh menanyakan hal itu, tapi inilah tujuan utamaku. Azzna bodoh.. apa kamu siap dengan jawaban Kak Alfath nantinya? Bagaimana kalau jawabannya hanya membuat kamu semakin sakit? Apa yang akan kamu lakukan? Menangis dan terus-terusan mengadu pada Sang pemberi hidup? Bisikku pada diriku sendiri. Dengan perasaaan kacau aku menunggu balasan dari Kak Alfath. Getar Hpku menghentikan segala pertanyaan aneh yang meraung-raung meminta jawaban diotakku. Bismillah.... sembari membuka sms itu,

“Iya, kakak sudah punya pacar dik, dikampung.” Degggg.... kali ini bukan lagi sakit yang aku rasa, tapi rasa nyeri yang tidak terkendali, aku merasa berdosa telah menyukai dan berharap pada orang yang notabene sudah menjadi pacar perempuan lain. Air mataku sekejap bercucuran menolak kenyataan ini. Apa aku menyesal bertanya seperti ini? Kenapa aku harus menanyakan hal ini? Kenapa Kak Alfath tidak mengerti perasaanku? Kenapa semuanya tidak berpihak padaku? Berbagai kata ‘kenapa’ memenuhi otakku kini. Sms ini tidak aku lanjutkan, aku tidak mau mendengar pernyataan selanjutnya yang akan Kak Alfath ucapkan. Aku hanya ingin tidur, yahh.. dengan tidur aku bisa melupakan smuanya, sakit hati, air mata, semuanya...

Paginya aku kembali terbangun, tepat setengah empat pagi aku mengambil air wudhu. Shalat tahajudku kali ini terasa berbeda, karna mataku sedikit terjanggal, mataku terlihat sangat sembab, efek dari tangisan semalam. Tiba saatnya aku memanjatkan doa seusai shalat,

“Engkaulah tempat terbaik untuk mengadu, hanya Engkau penenang hati dan jiwaku saat ini, Ya Allah kenyataan ini sungguh sangat menyakitkan, hamba mencintai Kak Alfath sebesar yang Engkau ketahui, atas dasar keridhoanmu, hamba bisa mencintainya seperti ini. Sepenuhnya hamba titipkan cintaku pada-Mu, lindungilah Kak Alfath...”
Satu minggu setelah itu, aku mendapati kabar bahwa ayahku harus berpindah kerja di Jambi, aku dan keluargaku terpaksa ikut pindah, dan kuliahku juga harus terhenti, mungkin aku memang harus memulainya dikota lain, karena ayah akan menetap kerja di Jambi, jadi aku tidak takut lagi memulainya dari nol.

Masih ada waktu untuk aku menulis surat untuk Kak Alfath, karna hanya dia yang pertama kali kuingat sebelum perpindahanku.

Paginya pukul tujuh, Airin teman dekatku dikampus kerumah, seperti halnya seorang sahabat, ia menemuiku mengucapkan salam perpisahan sebelum ia pergi kuliah. Tidak lupa aku menitipkan suratku itu pada Airin, Airin yang mengerti benar bagaimana awal cerita aku membenci hingga menyukai Kak Alfath sekaligus sahabat terbaik yang aku miliki.

Mobil avanza berwarna silver milik Om’ku sudah datang, Om’ku yang akan mengantarkan aku dan keluargaku menuju bandara Balikpapan. Pelukan hangat dari Airin membuatku tenang.
“Hati-hati Na.. jaga dirimu baik-baik.. .” ucap Airin padaku dengan mata berkaca-kaca.
“Iya Rin, jangan nangis ach.. makin jelek tau.” Balasku dengan tetap terlihat cool.
“Sakit ya Na..”
“Aku baik, makanya selalu doakan aku supaya selalu baik agar kita bisa bertemu lagi esok.” Kataku dengan sedikit menahan tangis, meski aku tau yang Airin maksud memang bukan fisikku, melainkan sakit hatiku.

Tepat setengah delapan Aku dan keluargaku berangkat.
Sekarang aku sudah berada dipersimpangan Bontang, Airin pasti sudah bertemu dengan Kak Alfath dan memberikan suratku.

“Assalamualaikum Kak Alfath...
Memory otakku seolah tidak berhenti memutar setiap kenangan tentang Kak Alfath sewaktu aku menulis surat ini. ‘Muhamamad Aqil Al Fatih’.. mungkin ini kali pertama aku menyebut nama kakak, dan aku tidak pernah berharap menjadi yang terakhir kalinya, karna aku berkeinginan suatu saat nanti tepat dihadapan kakak, aku bisa menyebutkan nama kakak dengan lengkap, walaupun hal itu dirasa sulit, karna bahkan aku tidak tau bisa bertemu kakak lagi atau tidak.

Kakak tentu ingat pertama kali aku meminta izin ingin memanggil kakak ‘bintang’..? pada saat itulah aku merasakan perasaan itu, perasaan yang mungkin orang biasa menyebutnya dengan cinta.. . aku cukup senang bisa mengenal kakak, tidak ada sedikitpun penyesalan yang aku rasa. Sampai akhirnya aku tau sudah ada perempuan beruntung yang memiliki kakak. Sumpah, demi tiap tetes air mataku, aku berat menerima kenyataan itu, kenyataan yang menghancurkan hati dan jiwaku. Satu detik dimana aku rasa, aku telah benar-benar mencintai kakak. Tapi ada hal yang paling rendah dan berdosa, yaitu kalau aku iri dengan perempuan yang sudah memiliki hati kakak. Aku sadar, hidup itu pilihan, sama seperti cinta, aku bisa memilih melupakan kakak atau tidak sama sekali, dan dua-duanya tetap ada resiko. Aku hanya ingin melupakan hal yang bisa aku lupakan dan tidak ingin memaksakan diri untuk melupakan hal yang sulit untuk lupakan, dan itu kakak.

Jangan timbulkan pertanyaan knapa aku menyukai kakak, karna sampai nafasku berhenti berhembus, aku tidak akan pernah mengetahui alasan knapa aku menyukai kakak, aku hanya tau sebuah rasa yang tulus ialah seonggok rasa yang tidak beralasan.
Kakak sepeti malaikat untukku, malaikat yang sedikit banyak sudah mengajarkan arti kedewasaan, mengikhlaskan sesuatu yang belum berpihak padaku, berubah menjadi yang lebih baik, dan semuanya. Terimakasih dan maaf.
Wassalam... .”

Dering HP menghentikan lamunanku. ‘Airin’.. . ada apa dia meneleponku.
“Hallo, assalamualaikum ..” ucapku.
“Walaikumsalam.. .Azzna, aku mohon sekarang kamu putar balik, Kak Aqil ingin menemuimu.” Dengan suara yang terdengar terdesa-desa.
“Tapi....”
“Aku mohon. ..” pinta Airin. “Hanya kali ini, aku yakin keluargamu akan mengerti.”

Lima menit lamanya aku berhasil membujuk orang tua dan Om’ku. Setelah setengah jam perjalanan, aku sampai diKampus, karna tadi Airin sempat sms menyuruhku langsung ke Kampus. Jantungku berdegup kencang sekali. Didepan salah satu ruangan, aku melangkahkan kakiku perlahan. Banyak orang disana, terlihat Airin menghampiriku.
“Azzna..,..” kemudian Airin terdiam.

Langkah kakiku membuat orang-orang disana beralih melihat kearahku. Aku melihat seorang laki-laki terbaring lemah ditengah-tengah rerumunan orang yang sekarang melihat kearahku. Aku mendekati laki-laki itu, jantungku tidak lagi berdegup kencang, tapi serasa berhenti melihat laki-laki yang sekarang sudah berada didepanku. ‘Kak Alfath’.. . wajahnya terlihat aneh.
‘Sabar Na..,’ aku seperti mendengar sayup-sayup suara Airin, dan beberapa isakan tangis orang-orang disekitarku.

“Kak Alfath. .. apa kakak kedinginan? Udara sangat panas diluar, dan bukannya kakak pernah cerita kalau kakak sangat menyukai warna coklat? Kakak bilang hampir semua barang-barang yang kakak punya bewarna coklat, tapi knapa sekarang kakak memakai selimut putih ini?” ucapku.

“Kakak juga berbohong hari ini, kakak juga cerita kalau kakak suka sekali dengan jus jeruk, bahkan kakak bilang selalu menolak jika diberi minuman selain jus jeruk, lalu kenapa air yang menempel dibibir kakak bewarna merah? Itu seperti bukan warna jus jeruk.”

Aku berusaha sedikit mendekatkan telingaku pada hidung mancung Kak Alfath, dan memejamkan mataku, mencoba merasakan hembusan nafasnya.
“Kak, knapa kakak menahan nafas seperti ini? Tolong jawab kak.” Kataku sambil menahan tangis.

“Setelah membaca suratmu, Kak Aqil sudah berusaha mengejarmu Jan, Kak Aqil bilang, dia hanya ingin mendengar smuanya langsung dari kamu, tapi takdir berkata lain, motor yang dipakai Kak Aqil oleng dan smuanya terjadi. Semuanya terlambat sebelum dibawa ke Rumah Sakit.” Ucap Airin dengan sedikit terisak.
Kali ini tangisku benar-benar pecah. .. Aku memang sudah sepenuhnya menitipkan cintaku Pada-Nya.. Kak Alfath pergi untuk selamanya.. .

*THE END *...

--------------------

Cerpen Karya: Septhi Permendtkaret

NB: mengikhlaskan sesuatu yang belum saatnya berpihak pada kita itu salah satu pesan moral di’cerpen ini.. dan mengajarkan untuk kita selalu berdoa pada-Nya dalam keadaan apapun.. . ^_^

Tuesday, July 26, 2011

Cerpen Sahabat: Tersenyumlah Sahabat Ku!!

Sudah lama rasanya ya tidak nerbitin Cerpen tema Sahabat dan Persahabatan disini. Sebenarnya sih sengaja, nunggu tahun pelajaran baru gitu. Kenapa? Karena pada masa ini kita semua bakal dapat sahabat-sahabat baru semua, terutama yang baru saja naik kelas atau di bangku perkuliahan. Ok deh, langsung aja baca cerpen sahabat yang berjudul Tersenyumlah Sahabat Ku!! kiriman dari Ghyna Noviana Yuniar berikut ini:

Tersenyumlah Sahabat Ku!!
Cerpen Sahabat

Kala mentari sudah mulai menampakan dirinya, pancaran sinarnya pun mulai terasa hangat. Tubuhku sudah siap untuk menyambut pagi ini, meski bahan makalah masih terbengkalai, laporan karya ilmiah masih terbengkalai, tugas-tugas sekolah pun masih terbengkalai dan sekarang muncul pula masalah yang memusingkan kepala. Meski pikiranku ini tak karuan, aku paksakan kaki ini untuk terus melangkah ke tempat tujuan.

Cerpen Sahabat, Cerpen tentang Sahabat, Cerpen Sahabat Terbaru 2011Dia datang dengan wajah cemberut, yang duh .... aku tak suka, wajah itu mengingatkan aku pada musuh-musuh teroris yang seakan-akan ingin memangsa negeri ini sampai tak berdaya. Gayanya, senyum sinisnya, bicaranya, diamnya dan aku muak pada semua yang berhubungan dengannya. Iya ... aku tau, dia sahabatku. Sahabat yang selama ini ada disampingku, berjuang dan hidup di tempat yang sama, bahkan tak jarang makan dan tidur bersama. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus terenggut begitu saja, kami mengalami perang dingin semenjak kebersamaan itu terekat semakin indah. Awalnya tidak ada yang salah, kami tetap seperti dulu, akrab dan selalu bersama, dimana-mana berdua, dimana diri ini berada, disitu pun ada dia. Tapi seketika bencana datang menghadang, ombak yang besar menghancurkan sendi-sendi persahabatan kami, dan yang ada kini hanya tinggal puing-puing tak berarti.
Aku sedih .. !!

Iya ,, aku sangat sedih. Dalam waktu sekejap persahabatan yang indah itu hancur berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kata yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup tanpa komando. Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah menjadi perpisahan. Meski raga bersatu tapi jiwa terpisah.

Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi?? Mengapa kesedihan yang sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi ??
Tapi sayang, tak ada jawaban !
Pertanyaan hanya tinggal tanya. Aku hanya manusia biasa, aku tetaplah insan lemah yang tak punya daya. Aku tidak bisa mengelak dari bencana itu.

“ Rha, besok giliran kelompok kita untuk presentasi, tadi siang Fachri kasih tau aku.” Aku beranikan diri menghampirinya. Aku harus bisa melawan syetan itu. Aku tidak mau dicap sebagai orang yang suka memutuskan tali silaturrahmi. Seperti sabda Nabi dalam sebuah hadistnya : “Tidak akan masuk surga orang yang mendiamkan saudaranya selama lebih dari 3 hari.”

Percuma beribadah sepanjang masa kalau akhirnya tetap masuk neraka. Itulah kenapa aku mati-matian ungkapkan sepatah dua patah kata padanya. Aku tak peduli apakah dia mau dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak aku tak peduli. Biar saja, yang yang penting tugas dan kewajibanku selesai. Dia mengangguk sambil bergumam pelan, aku tidak sempat mendengar gumaman itu karena aku terlanjur mengangkat kaki dari sana, aku tak punya daya untuk terus menopang kaki di tempat itu. Tak ada ucapan terima kasih yang aku dengar dari bibirnya. Biarlah ! aku tak butuh ucapan terimakasih itu, yang pasti aku lega karena kewajiban itu berhasil aku tunaikan. Setidaknya aku tidak akan masuk neraka karenanya. Itu saja !

Lambat laun perang dingin itu tercium juga. Teman-teman sekelas pun heran melihat aku yang tidak seperti biasanya. Mereka yang tau aku dan kenal siap aku, mereka yang selalu melihat aku dengan Zahra selalu bersama-sama. Tapi sekarang .. mereka tak melihat lagi hal itu. Mungkin mereka juga sudah tau masalah antara aku dan Zahra.

Aku ditemui Nabil setelah bel pulang sekolah di ruang kelas.
“ Syah, ada masalah ya sama Zahra ?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk disampingku. Mau tak mau aku harus jujur.
“ Iya, aku juga ngga tau kenapa bisa terjadi ?” ujarku.
“ Awalnya gimana sih kejadiannya ?” Nabil balik Tanya.
“ Aku rasa karena masalah kemarin, dia nanya tapi aku menanggapinya kurang ramah. Seharusnya dia juga ngerti kalau saat itu aku lagi bingung dan panik.”
” Kamu kenapa jawabnya kurang ramah?” protes Nabil.
”Aku kesal aja, dia ngga sopan sama aku. Memang dia anggap aku apa ?” Aku balik protes.

” Aku tau, semuanya terjadi karena kalian sama-sama panik dan terjadilah salah paham seperti itu. Sekarang kamu lupakan saja masalah itu.kembalilah bersikap biasa, bersahabatlah seperti dulu. Aku ngga suka kamu seperti itu.
” Sebenarnya aku yang salah, seharusnya aku bersikap bijaksana, tidak boleh membalas keegoan dengan keegoan yang lain.”

” Nah ,, itu kamu tau sendiri. Sekarang kamu harus seperti dulu lagi, sapa dan bicaralah denganya. Jangan takut dicuekin, itu tantangan mulia untukmu. Ayo Aisyah ...berjuanglah ! sangat mulia orang yang menghubungkan silaturrahmi.” Nabil menasehatiku. Aku bersyukur punya teman yang perhatian dan suka mengingatkan. Dia memang teman yang baik.

” Makasih ya ,, Bil. Aku akan berjuang mengembalikan jalinan itu kembali. Mohon doanya ya !!
Aku menggerakan bibir sambil membentuknya menjadi lebih indah, itu senyuman paling manis yang aku ciptakan. Aku berharap senyumman itu bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyum itu hanya tinggal senyum. Senyuman manisku teracuhkan begtu saja, dia melengah tanpa membalas sedikitpun. Hatiku menyuruh sabar .. sabar .. dan tetap sabarr.

Perjuangan belum usai !!
Aku tidak boleh menyerah ...
Aku harus tetap berjuang sampai senyuman manisku dibalas dengan senyuman yang paling manis.
” Oya ,, Rha , besok materi presentasi kita tentang wawancara, drama dan pidato.” Lagi-lagi senyumku mengembang sambil menyapanya. Aku bersyukur punya bahan pembicaraan supaya bisa berbicara dengannya. Dia diam saja, lagi-lagi tanpa ucapan terima kasih. Ah ,, sudah biasa.

Hari ini kos’an sepi, sunyi, tak ada suara-suara yang berarti. Mungkin semua orang sibuk dengan aktivtasnya disekolah. Aku tau, di kamar sebelah ada Zahra. Aku juga tau, hanya aku dan Zahra yang tersisa di kos’an hari ini. Aku sengaja berangkat agak siang ke sekolah,karena aku tau Zahra masih siap-siap di kamarnya. Aku beranikan diri menghampirinya dan mencoba menyapanya. Bermaksud untuk mengajak beangkat kesekolah bersama, tapi sayang sepertinya usahaku kembali sia-sia. Dia seolah-olah menganggapku tak ada. Saat itu, tak sanggup lagi rasanya hatiku menerima perlakuan seperti ini. Dia hanya diam saja tak perdulikan omonganku.

” Rha ,, aku kesekolah duluan ya.” Lagi-lagi aku tabah-tabahkan hati setelah sekali lagi dicuekin. Dalam hati aku berdoa semoga Allah melembutkan hatinya dan bisa menerima aku kembali menjadi sahabatnya. Sayang ,, persahabatan indah itu harus pupus di tengah jalan setelah sekian lama membinanya

” Boleh bicara, Rha ?” Aku menghampirinya di perpustakaan. Dia cuek, tanpa mmenoleh sama sekali, matanya lekat tertuju pada buku yang sedang dia baca.

“ Rha ,, kamu dengar suara aku kan ?” kali ini suaraku terdengar serak.sedih sekali dicuekin seperti ini.

“ Mau ngomong apa ?” Itu suara Zahra. Alhamdulillah akhirnya suara itu terdengar juga setelah sekian lama aku menantinya.

“ Kita tidak boleh seperti ini terus Rha, diam-diaman tanpa kenal dosa.sedih hati ini Rha, kita bersahabat sejak lama, sayang hanya karena masalah sepele kita bermusuhan seperti ini. Mari kita rajut kembali benang-benang itu menjadi tali ukhuwah yang lebih indah, mari kita bina persahabatan kita kembali.” Air mataku berjatuhan dari pelupuknya. Air mata itu mengalir mengairi pipi mulusku lalu merambas ke sela-sela jilbab putih yang aku pakai. “Rabb ,, hati ini sedih sekali.” Batinku pelan.

“ Terserah ....” Hanya itu jawaban darinya.
“ Terserah apanya, Rha ?”
“ Ya terserah .”
“ Kamu ga boleh seperti itu Rha, kasihlah komentar harus seperti apa hubungan kita,harus dibawa kemana persahabatan kita ?”
“ Up to you !” itu jawaban singkat yang betul-betul menyinggung perasaanku. Sedikitpun dia tidak menghargai aku sebagai sahabatnya. Dari jawaban ketus itu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa Zahra tak lagi menganggap diriku sahabatnya.
“ Terima kasih Rha atas jawabanmu, setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan setelah ini. Maaf kalau aku selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu, maaf kalau selama ini aku sering merepotkanmu dan maaf kalau aku harus mengambil keputusan yang aku sendiri tak sanggup melakukannya.

Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap menjalankannya. Air mtaku bertambah deras membasahi pipi,suaraku gemetar tak terhingga. Sebelum beranjak aku kuatkan hati untuk mengulurkan tangan ingin bersalaman, mungkin jabat tangan terakhir. Alhamdulillah dia menyambutnya walaupun hanya sekilas saja.
Aku beranjak ke luar dengan hati pilu. Keputusanku sudah bulat, aku harus hijrah ke tempat lain. Aku tidakmau menjadi masalah disini. Mengalah bukan berarti kalah bukan ???

Namun, sungguh sejujurnya aku tak mengharapkan kejadian ini. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.

Sudahlah ...
Apa dayaku ,,,
Harapan aku selama ini tak kunjung ku dapatkan, ku tak temukan lagi ”senyuman dari sahabatku”.

SAHABAT
Aku bersembunyi ..
Bukan berarti akumenghindar
Aku tenggelam..
Bukan berarti aku menghilang
Tapi..
Semua itu aku lakukan
Demi kebaikan kitabersamanya

By :
Ghyna Noviana Yuniar

Wednesday, July 13, 2011

Cerpen Juara Lomba: Istana Cokelat

Butuh referensi cerpen yang pernah menang lomba? Atau penasaran dengan cerpen yang seperti apa yang pernah menjadi juara dalam sebuah lomba cerpen? Berikut ini adalah sebuah cerpen tentang kehidupan yang pernah memenangkan lomba cerpen.
Istana Cokelat

Aku melayang. Berayun naik-turun. Segala sesuatu di depanku terlihat sama. Tapi aku tak peduli. Aku benar-benar menikmatinya. Potongan cokelat terakhir yang kulahap menyebarkan rasa manis yang hangat. Matahari yang terlihat di antara lengkungan cabang dan ranting mengirimkan bayangan dedaunan di wajahku. Senyumku melebar.

Kalau saja hidup sesederhana ini, kurasa aku tak akan pernah melewatkan sedetikpun dalam hidupku. Meresapi segala kenikmatan yang tersimpan dan menunggu untuk ditemukan. ''Ismail!'' kata Emir. Aku menghentikan papan ayunanku, menoleh padanya. Dia duduk di papan satunya lagi. Tangannya yang putih bersih terampil membuka kertas timah yang tampak berkilat. Sebatang cokelat utuh dan tampak menggoda terbuka di pangkuannya. Ia membagi kudapan itu menjadi dua bagian, memberikan potongan yang sama besar untukku. ''Makanlah!'' Katanya. ''Hidup sudah cukup pahit. Cokelat membuat perasaanmu lebih baik, bukan?'' Aku tahu dia akan berkata seperti itu. Kalimat itu sering kudengar saban hari sejak kami mulai bersahabat.

Aku dilahirkan dari keluarga sederhana. Ibuku hanya lulus SMP, ayahku bekerja serabutan, dan rumah mungkil kami hanya sedikit perabot. Hidup kami bisa dibilang sempurna. Ibuku wanita bahagia yang tidak pernah kehilangan lelucon dan ledakan tawa. Setiap hari ia bekerja di dapur, berkutat dengan aroma bumbu dan dentingan spatula. Ibu membagi waktunya dengan sempurna untukku, untuk ayah, dan untuk pekerjaan sambilannya. Namun bertahun-tahun berlalu, aku menyaksikan dengan cemas tawa di wajah ibuku perlahan-lahan padam, hilang sama sekali. Seandainya saja seorang pengemudi setengah mabuk tidak menabrak ayahku hingga tewas, hidupku tidak akan pernah terasa pahit.

''Bagaimana rasanya?'' Emir menghentakkan kakinya ke tanah, berayun dengan kencang di sampingku. Aku menggigit batangan cokelat yang renyah dan garing. Kehangatan kembali menyebar di tubuhku. ''Aku suka cokelat.'' kataku. ''Seandainya saja aku kaya, aku akan membuat Istana Cokelat dan hidup di dalamnya hingga dunia kiamat.''

Emir tertawa. ''Kupikir aku akan melakukan hal yang sama. Itu keren!''.
Aku berpaling padanya, menyaksikan jemarinya yagn mencengkeram rantai ayunan, wajahnya yang tersenyum pada langit, dan matanya yang terpejam menikmati angin. Tiba-tiba gelombang rasa sakit menerpaku.

Pertamakali aku bertemu dengannya, aku menyadari kesamaan di antara kami berdua: nasib buruk. Ia kehilangan ibunya dan menjalani hari-hari yang suram bersama ayahnya yang tempramen. Aku kehilangan ayahku dan hidup dalam ketidakpastian. Ayah Emir seorang Lurah kaya-raya dengan mobil mengkilap dan rumah mewah yang mengundang pertanyaan para warga. Perutnya terlihat bengkak, raut wajahnya kaku dan seram. Ia pernah membuat warga panik dengan letusan senjata apinya yang membahana, gara-gara hal sepele yang melibatkan bayangan kucing di halaman belakang. Sejak saat itu ia bersumpah, bahwa ia tak bakal segan-segan mengosongkan amunisinya jika melihat bayangan penyusup lagi di pekarangan rumahnya. Satu hal yang membuatnya begitu, ia benar-benar kikir. Ia memimpin desa dengan buruk dan kejam. Berbeda dengan janji-janjinya semasa kampanye dulu, janji-janji dan kelang sarden yang ditinggalkan di pintu-pintu rumah. Emir membenci ayahnya. Membenci segala hal yagn ia dapatkan sejak rumor tentang korupsi dan kebobrokkan ayahnya mencuat. Ia sering berkata padaku bahwa ia benar-benar menyesal dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Aku mencoba menghentikannya, tapi sayangnya itu tak banyak berpengaruh.

Orang-orang dewasa sering memanggilnya, membelai wajahnya yang tampan, dan mengamati lekat-lekat matanya yang berbinar, hanya untuk mengatakan satu hal: ''Kau benar-benar mirip ayahmu, Emir.'' Pada awalnya hal itu tidak terlalu mengganggu. Namun sejak kami beranjak remaja, sejak kami bisa menilai berbagai hal dan menentukan apa saja yang kami inginkan, Emir tidak menyukai hal itu.

Suatu hari, demi menentang pernyataan orang-orang dewasa, ia berdiri di depan cermin dan berdandan seperti anak perempuan. Ia mengenakan kerudung, rok dan sepatu anak perempuan yang dipinjamnya dari seorang teman. Ia berjalan ke sekolah, menggegerkan semua orang, dan jujur saja, membuatku malu. ''Apa yang kau lakukan?'' Aku menarik tangannya, menyeretnya ke kamar mandi. ''Aku berharap orang-orang melihatku dan berkata betapa miripnya aku dengan ibuku.'' Ia terdengar malu dan pasrah. ''Aku tidak suka mereka bilang aku mirip ayah.''
Bahuku tiba-tiba merosot. Aku membiarkannya terpaku di depan cermin, lalu masuk ke dalam bilik kloset dan mengunci diri di dalamnya. Aku menyalakan keran keras-keras; Emir tak perlu tahu aku sedang menangis.
''Kapan ibumu pulang?''Emir mengagetkanku.

Ibuku sudah tiga tahun di Arab Saudi. Selama ini aku tinggal bersama nenekku yang sakit-sakitan. Aku terpaksa berhenti sekolah untuk membantunya membeli eras dan lauk-pauk. Ibuku tidak pernah mengirimkan uang. Hubungan kami terputus sejak kami berpelukan distanplat terminal bertahun-tahun yang lalu. Beberapa bulan setelah orang-orang mengubur ayahku. Aku masih merasakan pelukannya yang hangat ditubuhku. ''Berjanjilah untuk kembali secepatnya.'' Kataku. Ibuku mengangguk. ''Belikan aku sarung dan peci baru, Mama.'' Ia mengeratkan dekapannya. Aku memejamkan mataku yang basah. Rambutnya harum, hitam bergelombang. Aku akan sangat merindukannya.
''Idul Adha nanti. ''Kataku.''Seseorang mengabariku. Dia sama seperti Mama. Tapi dia pulang lebih dulu berminggu-minggu lalu. ''Aku menelan gumpalan cokelat di mulutku. Berhenti berayun. Menendang-nendang kerikil dengan ujung kakiku. ''0 ya, apakah ayahmu tidak berkurban tahun ini?''

Emir tersenyum lelah. Memandangku tak berdaya. ''Kau tahu dia tak akan melakukannya. Kuharap suatu saat Tuhan bakal memaksanya mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. ''Ia beranjak dari papan ayunan. ''Ayo pergi. Sepertinya aku butuh udara segar.''
Aku tersenyum. Berlari mengejarnya. Rerumputan di kaki kami menari bersama angin.

******

Emir berdiri di depan cermin kamarku. Mengagumi penampilan barunya yang mengejutkan. Sore itu, tiba-tiba saja ia berlari ke rumahku berkata bahwa ia ingin terlihat sebagaimana ia melihatku. Maka aku mengantarnya ke kios pangkas rambut langgananku, meminjaminya kaos butut berlengan pendek, dan membiarkannya tenggelam dalam rasa bangga karena terlihat seperti gelandangan. Dia bilang, ''Apa aku sudah cukup terlihat kumur?'' Aku tersenyum.

Malam itu gema takbir berkumandang dari pengeras suara masjid-masjid. Kami berkeliling membawa obor, bersuka cita di antara suara tabuhan beduk dan letupan bunga-bunga api.Aku menunjukkan padanya, bahwa seperti inilah cara kami merayakan malam takbir. Berkeliling dari sudut ke sudut kampung. Memecah kesunyian yang tercipta sejak matahari meninggalkan singgasananya di langit. Sambil membuntuti iring-iringan pawai, Emir dan aku menendang-nendang bola dengan riang. Saling berbagi operan, sundulan, hingga pakaian kami basah dan bernoda gelap. Suatu ketika aku menyundul bola itu terlalu keras, hingga kami harus melihatnya lenyap di balik tembok semen sebuah bangunan. ''Jangan cemas, serahkan saja padaku.'' Kata Emir riang. Ia memanjat tembok pagar dan menghilang dibalik kegelapan sebelum aku mampu mencegahnya.

Aku terlambat menyadari apa yang baru saja terjadi. Alih-alih menunggu, aku menyusulnya tergesa-gesa. Memanjat tembok itu, menghindari deretan baling runcing yang sengaja disematkan, dan mendarat di atasu semak-semak yang kasar. Aku melihatnya membungkuk di bawah sebuah pohon, cahaya lampu dari belakang rumah gedongnya membuat sosok Emir hanya berupa siluet gelap yang dingin dan misterius. Aku berjalan pelan-pelan, walaupun aku ingin seali berlari. Teriakanku tertahan di kerongkongan saat itu juga. Waktu berjalan sangat lambat. Membekukan segalanya. Merampas ingar-bingar yang semula terdengar. Sebelum aku sempat meraih tangannya, tiba-tiba saja sebuah ledakan terdengar. Begitu keras!!!.

Emir mendadak roboh di sampingku. Ledakan kedua menyusul. Sesuatu yang basah menggelegak dari tubuhku.
Aku mendarat keras di permukaan tanah yang beku dan asing. Sebutir peluru panas menaklukkanku.

''Ismail, ''bisik Emir. ''Aku melihatnya, aku melihat Istana itu... Istana Cokelat kita....burung-burung terbang dengan riang.... ''Aku menggenggam tangannya. Rasanya dingin. Persis seperti tanganku.

*****

Aku menyaksikan segalanya dari balik jendela bus tua yang membawaku. Segala sesuatu tampak berbeda sekarang ini. Tiga tahun sudah aku meninggalkan tempat ini. Demi masa depanku. Demi putraku. Demi Ismail. ''Mama, bawakan aku peci dan sarung baru''. Aku memejamkan mata. Rasanya berabad-abad sudah sejak aku mendengar kata-kata itu. Ismailku tersayang, sudah seperti apa rupamu saat ini, nak? Aku kembali mengeratkan sweter yang membungkus tubuhku. Menutupi luka-luka yang kudapatkan ketika aku terkurung di rumah keluarga asing yang tidak bisa menegaskan sikapnya tanpa menyakitiku. Tapi aku tak mau siapapun tahu apa yang menimpaku. Bahkan putraku. Aku memeluk peci dan sarung baru dalam tas plastik kusam, kondektur membukakan pintu untukku. ''Ismail, aku pulang, nak.''Hatiku berkata. Namun saat aku menurunkan kakiku di tepi jalan, di tanah dimana aku dibuai dan dilahirkan, hatiku tiba-tiba terasa hampa. Aku merasa sangat kesepian.


Mulya Abdul Syukur
Mahasiswa UIN Suska Riau
Istana Cokelat ini memenangkan ( pemenang, juara ) lomba Cerpen Xpresi 2010 kategori Mahasiswa.

Cerpen: Setitik Gerimis di Pagi Hari

Setitik Gerimis di Pagi Hari

Namaku Zie. Aku adalah anak tunggal sekaligus yatim. Aku sangat menyukai gambar dan lukisan. Tetapi penyakit jantung ayah kambuh saat penyerahan hadiah kemenanganku atas lomba lukis se-Riau, dan ia tak pernah melihat piagam kemenanganku untuk selamanya.
Sejak kejadian itu, aku sulit untuk membuat gambar ataupun melukis lagi. Dan tugasku sebagai ilustrator mading sekolah sering tersendat dan tidak sesuai lagi dengan keinginanku.

“Hei, Zie!” teriak Bima dari luar kelas.
Bima adalah ketua ilustrator. Saat itu aku sedang membuat ilustrasi untuk majalah dinding bulan ini yang ditugaskan olehnya. Tapi sepertinya dia akan meminta tugasku sekarang.

“Sorry, Bim,” aku kembali melanjutkan menggambar, tanpa menoleh,”mungkin setengah jam lagi siap.”
“Entar aku kesini semuanya udah clear, oke?”

Tanpa menunggu jawabanku, Bima membalikkan langkahnya.
Andaikan aku bisa kembali menggambar seperti dulu, mungkin tugas seperti ini akan selesai dari tadi. Oh, god!
Kerongkonganku terasa kering. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli minuman di kantin yang cukup jauh juga dari kelas ini.
Sesaat setelah meneguk pop ice rasa anggur kesukaanku, terdengar pembicaraan di belakangku.
“Kenapa lagi dia?” kata suara yang kurang kukenal.

“Nggak tau, tuh! Buat ilustrasi gitu aja lama betul,” aku mengenali suara ini sebagai suara Bima,
“Jangan-jangan ilustrasinya baru siap besok!” celetuk temannya Bima.
“Tauk, ah!” jawab Bima geram, “Cewek itu selalu suka seenaknya. Udah jelek, belagu lagi! Untung…,”
Aku tak lagi mendengar kelanjutan percakapan itu, mereka sudah pergi dari tempat duduk mereka. Dan tanpa kusadari airmataku sudah jatuh membasahi pipiku yang tak mulus karena jerawat.

Besoknya aku tak merasa ingin pergi ke sekolah. Begitu juga dua hari berikutnya. Ibu tidak banyak bertanya kenapa aku tidak ke sekolah. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai penerjemah.

Beberapa orang mengirimkan pesan padaku lewat sms, tapi semuanya tidak menanyakan keadaanku. Mereka hanya memintaku untuk melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai. Betapa bencinya aku pada mereka semua!
Di hari keempat sejak kejadian itu, aku memutuskan untuk kembali ke sekolah. Dan aku membulatkan tekad untuk tidak memedulikan mereka, yang sebagian besar membenciku.

Hari ini ada seorang murid baru cewek pindahan dari Selat Panjang. Anak baru itu sangat cantik, dan dia memperkenalkan dirinya dengan nama Fira.

“Hai, aku boleh duduk disampingmu?” tanya Fira kepadaku
“Silahkan, asal jangan ngeganggu aja,” jawabku
“Baiklah,” katanya sambil tersenyum, dan mengacungkan dua jarinya membentuk tanda damai kepadaku, “Aku janji nggak bakal ngerepotin, kok!”
Fira anak yang senang bercerita. Walaupun aku tidak terlalu suka dengan orang yang banyak bicara, tapi aku selalu betah mendengarkan ceritanya yang sebagian besar terdengar konyol. Fira juga membuatku jadi tidak minder kalau berada di dekatnya, karena dia selalu menggandeng tanganku.

“Zie, kamu kok diam saja,” Tanya Fira suatu hari, “sekali-kali cerita gitu sama aku. Perasaan selama ini aku terus yang bekoak-koak sendiri kaya’ tante-tante cerewet!”

Aku tertawa mendengar perkataan Fira yang polos itu. Kejujurannya inilah yang mungkin menyebabkan aku betah mendengarkan ceritanya.
“Entah, Fir,” kataku akhirnya setelah selesai tertawa, “Aku tidak punya bahan cerita yang menarik untuk diceritakan.”
“Kok gitu?” aku tidak menjawab pertanyaannya. Bagiku cukup kalau dia bersikap seperti ini padaku tanpa harus terkontaminasi oleh cerita-ceritaku nantinya.

“Zie!” teriak Bima dari depan pintu kelas
Aku menjawab dengan mendengus menandakan bahwa aku mendengarkannya.
“Tugas kemarin udah selesai?”

“Nggak,” jawabku sekenanya, “aku nggak mood ngerjainnya.”
“Maksudmu? Kamu ini, udah lama dikasih tugasnya, belum kelar-kelar juga! Lelet amat sih jadi orang!” teriak Bima, “Niat kerja nggak sih, dasar cewek jelek!”

Darahku hampir mendidih mendengar perkataannya barusan. Kemudian tiba-tiba Fira sudah berdiri di depanku dan menarikku mendekati Bima.
“Zie, kamu tahu nggak, gara-gara cowok yang selalu memandang fisik seseorang kaya’ gini aku pindah dari sekolahku yang lama,” setelah berkata begitu, Fira mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya ke perut Bima, dan membuat Bima meringis kesakitan.

“Apaan sih cewek ini,” kata Bima sambil memegangi perutnya yang meradang, “Kamu udah gila, ya! Dasar Cewek Lesbi!”

Kali ini aku yang naik pitam. aku masih bisa bersabar kalau dia menghinaku. Tapi tidak kalau dia berani menghina satu-satunya teman yang begitu baik padaku. Aku menampar mukanya berkali-kali hingga muka Bima yang putih mulus berubah merah lebam.
“Itu hadiah buatmu karena nggak pernah sopan sama cewe’,” kataku akhirnya, dan melemparkan sebuah amplop yang jatuh di atas perutnya, “dan itu surat pengunduran diriku,”

Betapa leganya aku karena telah melampiaskan kekesalanku selama ini. Setelah hari itu, entah kenapa jari-jemariku kembali menuruti keinginanku, sehingga aku kembali dapat melukis seperti dulu. Thanks God!

Veni Yuherliana Putri
Mahasiswi Teknik ELektro UR
Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner