Tel Aviv (SI ONLINE) - Dukungan terhadap upaya Palestina menjadi anggota PBB mengalir deras. Di Tel Aviv, ratusan intelektual dan akademisi Yahudi Israel melakukan aksi demonstrasi menyuarakan dukungan mereka.
Setidaknya 300 orang mengikuti aksi demonstrasi pada Jumat (23/9/2011) mendukung Palestina di Tel Aviv. Aksi ini dipenuhi pidato dari mantan anggota parlemen Yael Dayan, penulis Sefi Rachlevsky, dan tokoh mahasiswa Israel Daniel Cohen Bendit, serta beberapa profesor dari universitas ternama Israel.
Intelektual dan akademisi Israel ini meminta Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk maju terus dengan usahanya mencari dukungan di PBB, meskipun mendapatkan penolakan keras dari Amerika Serikat dan Israel.
Demonstrasi besar-besaran tersebut juga diikuti mantan Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Alon Liel ini. Menurut para demonstran, Presiden AS Barack Obama jelas-jelas telah mendukung Israel dan berusaha keras menjegal Palestina.
"Pidato Obama lalu jelas menjadi pukulan telak bagi Abu Mazen (panggilan untuk Presiden Mahmoud Abbas). Amerika selama ini mendukung perubahan di Libya, Tunisia, Yaman, dan Bahrain, tetapi tidak Palestina karena mereka berhadapan dengan Israel," jelas Liel.
"Amat menyakitkan Presiden seperti Obama mempermalukan tokoh seperti Abbas di Sidang Majelis Umum PBB," tukas Liel yang membela Abbas.
Liel pun meminta agar Palestina tidak terpengaruh dengan tekanan yang ada saat ini. "Kalian memang diserang Obama, tetapi dia tidak lagi menguasai dunia, masih ada dukungan dari komunitas internasional. Lupakan Dewan Keamanan PBB, langsung ke Majelis Umum dan raih dukungan 150 negara (anggota PBB)," tutur Liel.
Sementara pengunjuk rasa lain, Yael Dayan, mengecam Pemerintah Israel yang mengatakan langkah Palestina adalah langkah unilateral.
"Bukankah pendudukan (Israel terhadap Palestina) juga langkah unilateral. Apakah kedua belah pihak saling menduduki wilayah? apakah kedua wilayah memiliki infrastruktur yang sama? Kami (Israel) memiliki semuanya, tetapi Palestina tidak. Palestina juga berhak atas segala hal yang kami miliki," tegas Dayan.
Sementara Profesor Galia Golan menyalahkan pemerintahnya yang tidak dapat mengupayakan perdamaian. Ia menjelaskan bahwa pada 1988 lalu PLO (Palestina) menerima kompromi dengan memberikan 78% wilayah mereka demi perdamaian dan mengakhiri agresi.
"Kami mendesak pemerintah juga belajar memberi dan mengikhlaskan. Selama bertahun-tahun kami mengabaikan ini," kata Profesor Golan.
Para akademisi Israel menyebut Abbas sebagai pemimpin paling moderat yang pernah ada. Dirinya pun dianggap mengambil langkah anti-kekerasan dan harus membayar mahal dengan pendiriannya, bersama dengan rakyat Palestina.
Saturday, September 24, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





No comments:
Post a Comment